BMKG: meski kemarau tetap waspadai cuaca ekstrem

id BMKG,musim kemarau,cuaca ekstrem

Sebuah pesawat menerobos awan tebal saat akan mendarat di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (7/2/2017). BMKG Sulsel meminta warga mewaspadai cuaca buruk hingga Maret 2017 dengan curah hujan mencapai 60 mm hingga 150 mm per hari. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)

Jakarta (ANTARA News) - Deputi bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal mengimbau semua pihak agar tetap waspada terhadap cuaca ekstrem meski saat ini memasuki musim kemarau.

"Meski musim kemarau, waspada terhadap cuaca ekstrem harus tetap diperhatikan karena wilayah kita sangat luas," kata Herizal di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan, cuaca di Indonesia hanya terdiri dari dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Saat ini 60 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, sedangkan 40 persen sisanya pada masa transisi antara musim hujan ke musim kemarau.

"Biasanya musim kemarau kita fokus pada kebakaran hutan dan lahan, tapi kita lupa bahwa bicara musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali apalagi wilayah kita sangat luas," tambah dia.

Meski menghadapi kemarau, namun karena wilayah yang luas, bisa saja di NTT sedang kering tapi di Sumatera Utara terjadi hujan lebat. Karena ketidaksiapan bisa terjadi bencana seperti banjir dan tanah longsor.

"Karena itu kita harus siaga di segala musim. Saat kemarau bukan hanya siaga karhutla tapi juga perlu mewaspadai cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor," katanya.

BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan untuk mewaspadai anomali cuaca yang dapat memicu potensi cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah Indonesia dalam seminggu ke depan.

Baca juga: BMKG: waspadai gelombang tinggi pada 20-26 juni

Meski saat ini memasuki musim kemarau masyarakat tetap harus waspada terutama dalam seminggu ke depan karena adanya anomali cuaca.

BMKG memprediksi anomali cuaca akibat sistem pola tekanan rendah di Samudera Pasifik sebelah timur Filipina, adanya aliran udara basah dari Samudera Hindia, sistem sirkulasi siklonik di wilayah Samudera Hindia Barat Bengkulu, Selat Karimata dan Selat Makassar yang mengakibatkan terjadinya pola pertemuan aliran udara di bagian selatan Kalimantan, perairan selatan Bangka-Belitung, Sumatera Selatan-Lampung, Bengkulu hingga Samudera Hindia dan belokan angin di wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrim dalam bentuk hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi ini disertai kilat dan petir dan angin kencang yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Baca juga: Indonesia masuk kemitraan prediksi cuaca-iklim Asia Tenggara

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar