London (ANTARA News) - Tiga dari empat korban serangan mematikan yang dilakukan warga Palestina atas satu rumah ibadah Yahudi memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat, kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Selasa, membenarkan pengumuman yang dibuat sebelumnya oleh polisi Israel.

"Kami dapat membenarkan bahwa tiga warga AS yakni Mosheh Twersky, Aryeh Kupinsky dan Cary William Levine, terbunuh dalam serangan tersebut di satu sinagog di Jerusalem," kata jubir itu kepada wartawan yang sedang melakukan lawatan bersama Menlu AS John Kerry di London.

Sebelumnya Luba Samri, wanita jubir Kepolisian Israel, mengatakan bahwa tiga korban adalah orang-orang Israel dengan kebangsaan AS, dan orang keempat ialah seorang warga Israel dengan kebangsaan Inggris.

Seorang jubir Kantor Kemeneterian Luar Negeri Inggris di London membenarkan kepada kantor berita AFP, "Kami menyadari kematian seorang dengan dwi kebangsaaan Inggris-Israel di Israel pada 18 November."

Namuan ia tak memberitahu namanya.

Dari Jerusalem AFP melaporkan dua warga Palestina dengan sepucuk senjata dan alat pemotong daging masuk ke sinagog itu, Selasa, dan membunuh empat orang tersebut sebelum keduanya ditembak hingga mati.

Laman ultra Ortodoks terkemuka Israel menyatakan empat korban itu adalah rabbi.

Serangan seperti jarang terjadi di satu rumah ibadah dan mengagetkan seantero negeri itu, menimbulkan ketakutan bahwa konflik Israel-Palestina memasuki dimensi keagamaan yang berbahaya.

Israel berjanji akan mengambil tindakan keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyerukan pertumpahan darah itu "hasil langsung" pernyataan Presiden Palestina Mahmud Abbas dan Hamas, yang bertekad akan menanggapi dengan "tangan keras".

Abbas mengutuk pembunuhan tersebut tetapi Hamas menyambut baik serangan itu, dengan para militan Palestina yang menggunakan tutup muka di bagian selatan Gaza memegang pisau-pisau dan kapak dekat dengan poster-poster para penyerang. Sementara yang lainnya membagi-bagi kue sebagai tanda rasa suka cita, kata seorang koresponden AFP.

Serangan berdarah itu terjadi ketika pergolakan yang berlangsung beberapa bulan melanda sektor bagian timur Arab yang dicaplok Israel di Jerusalem. Serangan-serangan mematikan oleh warga Palestina dan kemudian dipicu oleh kematian seorang sopir bus dalam situasi yang kontroversial.

Tapi tak satupun seserius pembunuhan Selasa di sinagog tersebut di kawasan yang dihuni kaum ultra orthodoks di pinggiran barat Jerusalem sementara para jamaah berkumpul untuk beribadah pagi hari.

(M016)

Editor: Unggul Tri Ratomo
Copyright © ANTARA 2014