Hari Purbakala, Komunitas Malam Museum ajak lestarikan cagar budaya

id Hari Purbakala ke-108,Ditjen Kebudayaan

Tangkapan layar - Pendiri Komunitas Malam Museum Erwin Djunaedi (kanan) bersama arkeolog Universitas Gadjah Mada Prof Inajati Adrisijanti (tengah) dalam Ngobrol Seru Soal Borobudur "Pesan untuk Generasi Muda" yang diadakan Balai Konservasi Borobudur dalam rangka memperingati Hari Purbakala ke-108 secara daring diakses di Yogyakarta, Senin (14/6/2021). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Yogyakarta (ANTARA) - Pendiri Komunitas Malam Museum Erwin Djunaedi mengajak masyarakat berkontribusi dalam upaya melestarikan cagar budaya milik Indonesia tepat di Hari Purbakala ke-108 dengan caranya masing-masing.

"Mau apresiasinya dengan musik, lewat game, silahkan. Karena ini milik kita, dan kita yang harus melestarikan. Semoga tetap lestari," kata Erwin mengajak masyarakat melestarikan cagar budaya dalam Ngobrol Seru Soal Borobudur "Pesan untuk Generasi Muda" yang diadakan Balai Konservasi Borobudur dalam rangka memperingati Hari Purbakala ke-108 secara daring diakses di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, benda cagar budaya milik Indonesia harus menjadi ladang pengetahuan bersama. "Misalnya di candi ada relief, nah sekarang ada yang sudah buat batik dari cerita relief candi itu".

Baca juga: Para seniman melukis bersama di kompleks Museum BPK Magelang

Ada pula yang merekonstruksi alat musik yang ada di relief Candi Borobudur dan mencoba membunyikannya lagi, kata Erwin. "Jadi jangan melihat Borobudur sebagai sesuatu yang stagnan, tapi jadikan itu inspirasi berkesenian dan berkebudayaan".

Cara lain agar generasi muda mau ikut melestarikan dan mengkonservasi cagar budaya, menurut dia, melalui komunitas-komunitas yang lebih bisa "dicerna" anak-anak muda. Mereka lebih gandrung melakukan sesuatu melalui komunitas, contohnya grup fans K-Pop BTS yang punya komunitas sendiri bernama ARMY.

"Itu alasan kami sampaikan kenapa pelestarian budaya butuh wadah untuk bisa melakukannya bersama," kata Erwin.

Komunitas Malam Museum melakukan riset sejarah yang ada di sekitar teman-teman atau masyarakat Yogyakarta. Kebanyakan yang sudah-sudah biasanya belajar yang besar-besar seperti sejarah Bung Karno, tetapi lupa soal Kampung Kauman, Kampung Ketandan dan lain-lain.

Erwin mengatakan komunitas yang didirikannya bersama rekan-rekannya memang memiliki visi ke depan untuk lebih melibatkan lagi masyarakat dari segala lini. Dirinya mengapresiasi arkeolog Universitas Gadjah Mada Prof Inajati Adrisijanti yang menekankan bahwa kerja-kerja arkeologi hendaknya jangan berjarak dengan masyarakat, karena pada dasarnya mereka pemiliknya.

Ia menyakini salah satu Indonesia sudah menjadi negara maju mana kala ketika ada anak TK yang ditanya ingin menjadi apa ketika dewasa nanti lalu menjawab ingin menjadi arkeolog, antropolog, atau sejarawan.

Baca juga: Ketua DPD RI kunjungi Museum Istana Balla Lompoa di Gowa

Sementara itu, Prof Inajati mengatakan selain perlu meningkatkan edukasi soal sejarah, cagar budaya, kepurbakalaan pada pemandu wisata agar paham kerja-kerja arkeologi yang sebenarnya, sangat perlu juga memberikannya pada anak-anak sekolah.

"Anak-anak sekolah kalau datang ke Borobudur misalnya begitu turun bis biasanya mencari kamar kecil. Lalu berfoto. Lalu lari-lari beli kaos, lari lagi balik ke bis. Sempat kami tanya, jawabnya kan sudah ada fotonya," kata Prof Inajati menceritakan lagi pengalamannya yang terjadi di Candi Borobudur.

Bertepatan dengan Hari Purbakala yang jatuh di setiap tanggal 14 Juni, ia berharap pelestarian dan kelestarian cagar budaya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan catatan pelestarian dan kelestarian itu perlu dijaga.

Baca juga: DPRA dorong percepatan pembangunan museum Al Quran kuno di Nagan Raya
Baca juga: Hari Purbakala ke-108 momen budaya Indonesia mendunia lewat teknologi
Baca juga: Hari Purbakala ke-108, akademisi UI harapkan peningkatan kolaborasi


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar