Bank Dunia, IMF desak akses vaksin COVID-19 untuk negara berkembang

id Bank Dunia,IMF,akses vaksin,negara berkembang

Dokumentasi - Penumpang yang mengenakan baju hazmat untuk melindungi dari virus COVID-19 saat berada di Bandara Internasional Ninoy Aquino, Paranaque, Metro Manila, Filipina, Kamis (14/1/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Eloisa Lopez/rwa/am.

Washington (ANTARA) - Kelompok Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Kamis (3/6/2021) meminta negara-negara yang mengantisipasi kelebihan pasokan vaksin dalam beberapa bulan mendatang untuk melepaskan kelebihan dosis dan opsi mereka sesegera mungkin ke negara-negara berkembang.

"Pandemi virus corona tidak akan berakhir sampai semua orang memiliki akses ke vaksin, termasuk orang-orang di negara berkembang," kata Presiden Kelompok Bank Dunia David Malpass dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam pernyataan bersama kepada negara-negara industri Kelompok Tujuh (G7).

"Akses vaksin di seluruh dunia menawarkan harapan terbaik untuk menghentikan pandemi virus corona, menyelamatkan nyawa, dan mengamankan pemulihan ekonomi berbasis luas," kata Malpass dan Georgieva.

Mereka mencatat bahwa bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Kelompok Bank Dunia dan IMF telah mendesak dukungan internasional untuk pendanaan 50 miliar dolar AS yang bertujuan untuk mencapai akses yang lebih adil ke vaksin, dan dengan demikian membantu mengakhiri pandemi dimana-mana.

Kelompok Bank Dunia dan IMF meminta negara-negara yang mengantisipasi kelebihan pasokan vaksin dalam beberapa bulan mendatang untuk melepaskan dosis dan opsi surplus mereka "sesegera mungkin," secara transparan, kepada negara-negara berkembang "dengan rencana distribusi yang memadai," kata mereka.

"Kami mendesak negara-negara berkembang bergerak cepat untuk menerapkan rencana pengadaan dan distribusi vaksin serta upaya komunikasi guna menyampaikan pentingnya vaksinasi COVID-19 yang disetujui untuk menyelamatkan nyawa," lanjut mereka.

Kedua pemimpin juga mendesak produsen vaksin untuk memprioritaskan peningkatan produksi vaksin, memberikan peningkatan akses bagi negara-negara berkembang, menambahkan bahwa organisasi multilateral mereka akan bekerja secara aktif untuk mendorong dan mendukung akses yang lebih besar.

"Mendistribusikan vaksin secara lebih luas merupakan kebutuhan ekonomi yang mendesak, dan keharusan moral," tambah mereka.

Menurut perkiraan IMF, peluncuran vaksinasi yang lebih cepat dapat menyuntikkan setara dengan 9 triliun dolar AS ke dalam ekonomi global hingga 2025, karena dimulainya kembali kegiatan ekonomi yang lebih cepat.

Pada konferensi pers baru-baru ini, Georgieva mengatakan bahwa 60 persen dari keuntungan 9 triliun dolar AS akan diberikan ke emerging markets di negara-negara berkembang, dan 40 persen akan diberikan ke ekonomi maju.

Baca juga: Bank Dunia alokasikan 2 miliar dolar untuk vaksin di negara berkembang
Baca juga: Bank Dunia setuju berikan 34 juta dolar untuk vaksinasi di Lebanon
Baca juga: Bank Dunia alokasikan Rp176,4T untuk obat dan vaksin COVID-19

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar