Kemendikbudristek sambut baik program belajar digital SAMTAKU

id Kemendikbudristek,SAMTAKU,Jumeri,pengelolaan sampah

Program belajar digital “Sampahku, Tanggung Jawabku” (SAMTAKU) yang merupakan inisiatif sejumlah pihak dan Kemendikbudristek (ANTARA/HO- dok pri)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Jumeri menyambut baik program belajar digital “Sampahku, Tanggung Jawabku” (SAMTAKU).

“Pemerintah menyambut baik setiap inisiatif yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam upaya memajukan pendidikan sejak dini untuk mencetak generasi penerus yang lebih mencintai lingkungan,” ujar Jumeri dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Program itu dirancang untuk memudahkan tenaga pendidik dan orang tua memberikan pemahaman kepada anak tentang pentingnya mereka bertanggung jawab atas pengelolaan lingkungan di sekitar mereka

Baca juga: Kemendikbudristek: Kompetensi numerasi dorong anak punya nalar tinggi

Program SAMTAKU ini merupakan kelanjutan dari komitmen program Bijak Berplastik AQUA yang diluncurkan sejak 2018. Program Bijak Berplastik memiliki beberapa pilar, salah satunya adalah pilar edukasi dengan target mengedukasi lebih dari 100 juta konsumen dan 5 juta anak usia sekolah hingga tahun 2025.

Pada 2021, materi program SAMTAKU dikemas secara digital dengan materi berkualitas dan menarik agar dapat lebih mudah diakses dan tersedia untuk diunduh kapan saja. Selain itu, inisiatif ini dikembangkan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh yang tengah diimplementasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia selama pandemi.

“Kolaborasi AQUA dan Sekolah.mu ini sejalan dengan program pemerintah yang ingin terus melakukan terobosan program pendidikan terutama ketika periode proses belajar mengajar dilakukan dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Dengan adanya program belajar digital SAMTAKU, anak-anak di Indonesia dapat memperoleh kesempatan untuk belajar mengenai tanggung jawab terhadap lingkungan sejak dini untuk mewujudkan pelajar Pancasila yang memiliki nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari,” kata Jumeri.

Baca juga: Kemendikbudristek pelajari pembatalan SKB 3 Menteri terkait seragam

Brand Director AQUA, Intan Kartika, mengatakan pada saat pandemi sejumlah adaptasi adaptasi dilakukan sehingga misi AQUA dalam berbisnis maupun misinya terhadap sosial dan lingkungan dapat tetap terwujud.

“Kami terus berusaha untuk menyediakan hidrasi sehat yang terlindungi, untuk melindungi seluruh keluarga di Indonesia dengan baik, tanpa mengesampingkan komitmen terhadap lingkungan yang kami implementasikan melalui Gerakan BijakBerplastik. Untuk itu, kami mengadaptasi program belajar SAMTAKU menjadi format digital yang dapat mendukung program pembelajaran jarak jauh. Di bawah naungan Kemendikbudristek dengan Sekolah.mu, program belajar SAMTAKU kini dapat diakses oleh seluruh siswa PAUD dan SD di seluruh Indonesia,” jelas Intan.

Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, mengatakan selain meningkatkan pemahaman program itu juga menyasar peningkatan keterampilan tentang pengelolaan sampah untuk mengurangi dampak sampah Indonesia dan berkontribusi pada Gerakan Indonesia Bersih.

“Kami percaya untuk membangun generasi muda yang dapat memperhatikan lingkungan diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak dan terus melakukan pembaruan untuk menghadapi tantangan yang ada,” kata Arif.

Program tersebut secara khusus menyasar anak-anak usia 4-12 tahun. Melalui kolaborasi bersama Sekolah.mu, saat ini program digital SAMTAKU di tingkat PAUD telah diakses oleh lebih dari 1.700 pengguna dan 153 sekolah, sedangkan program di tingkat SD telah diakses oleh lebih dari 1.500 pengguna dan 125 sekolah di seluruh Indonesia.

Dalam program belajar terintegrasi digital SAMTAKU, anak-anak mendapatkan materi belajar yang interaktif, baik itu berupa video, buku cerita, aktivitas menyenangkan, dan berbagai panduan pengelolaan sampah yang dapat diakses selamanya secara gratis. Pada akhir program anak-anak diminta untuk melakukan aksi nyata dan mempraktikkan langsung pengetahuan yang sudah didapat. Anak-anak akan membuat biopori dan diminta menceritakan bagaimana proses pembuatannya.

Seluruh aksi dan karya anak akan terdokumentasi pada portofolio yang dapat dijadikan referensi untuk penilaian perkembangan anak di sekolah maupun bagi orang tua. ***3***

Baca juga: Wagub Jatim apresiasi pembangunan TPST Samtaku Lamongan


Pewarta : Indriani
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar