Wakil Bupati Mimika ajak semua komponen perangi kasus malaria

id Kasus malaria di Mimika

Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob (mengenakan topi Burung Cenderawasih) disambut warga saat tiba di Puskesmas Mapurujaya untuk mengikuti peringatan Hari Malaria Sedunia. (ANTARA/Evarianus Supar)

Timika (ANTARA) - Wakil Bupati Mimika, Papua Johannes Rettob mengajak semua komponen di daerah itu untuk bersama-sama memerangi kasus malaria yang hingga kini masih menjadi penyakit dominan yang dialami warga setempat.

"Semua yang terlibat dalam program Malaria Center harus pro aktif. Kita harus membagi tugas dan harus bersinergi untuk mengatasi kasus malaria di Mimika, kita memerlukan kerja sama," kata Wabup John Rettob di Timika, Rabu.

Mantan Kepala Dishubkominfo Mimika itu menegaskan semua pihak bertanggung jawab untuk menurunkan dan melakukan eliminasi kasus malaria dari Mimika secepatnya.

"Untuk memberantas malaria bukan hanya urusan dinas kesehatan saja tetapi harus ada keterlibatan OPD lain seperti penanganan masalah kebersihan, sampah, selokan dan drainase yang tersumbat, itu bukan tugas Dinas Kesehatan, tapi dinas-dinas yang lain," ujarnya.

Kabupaten Mimika mencanangkan eliminasi dari kasus malaria pada 2026 atau empat tahun dari target nasional yaitu pada 2030.

Namun upaya ke arah itu masih jauh dari harapan lantaran Mimika kini menyumbang 30 persen dari kasus malaria di Indonesia dengan angka Annual Parasite Incidence (API) per tahun mencapai lebih dari 300 kasus.

Baca juga: Sejuta lebih kelambu berinsektisida diperoleh Papua cegah malaria

Baca juga: API malaria di lima kabupaten di Papua masih tinggi


"Masih tingginya angka kasus malaria di Mimika, salah satunya dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kepatuhan untuk meminum obat secara teratur sesuai anjuran petugas medis, " ujar  Wabup John Rettob.

Peringatan Hari Malaria Sedunia di Mimika tahun ini dipusatkan di Puskesmas Mapurujaya, Distrik Mimika Timur.

Puskesmas Mapurujaya sengaja dipilih sebagai pusat pelaksanaan Hari Malaria Sedunia di Mimika lantaran merupakan salah satu puskesmas tertua setelah Puskesmas Kokonao dan sudah ada sejak Mimika masih menjadi bagian dari Kabupaten Fakfak.

Wabup Mimika juga memuji kualitas pelayanan Puskesmas Mapurujaya lantaran dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang memadai, juga ketersediaan tenaga dokter, tenaga khusus malaria, TB dan penyakit menular lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Reynold Ubra menyatakan Puskesmas Mapurujaya merupakan satu dari 23 Puskesmas yang ada di Mimika.

Tahun 2019 Puskesmas Maupurujaya meraih akreditasi tingkat madya dari Kementerian Kesehatan.

Puskesmas Mapurujaya juga dilengkapi dengan fasilitas instalasi pembuangan air limbah yang pembuatannya dianggarkan APBD TA 2020.

Puskesmas Mapurujaya, katanya, wajib menyediakan tiga komponen pelayanan pokok yakni upaya kesehatan masyarakat melalui promosi kesehatan, pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan perorangan.

Kadistrik Mimika Timur Yulianus Pinimet mengatakan, dalam rangka memberantas malaria sudah dibentuk Pokja Malaria di wilayahnya.

Baca juga: Malaria penyakit dengan urutan tertinggi di RSUD Paniai

Baca juga: Cegah malaria, Satgas Pamtas "fogging" Kampung Kibay-Keerom, Papua

 

Pewarta : Evarianus Supar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar