Holding ultra mikro dinilai mampu dorong ekosistem pembiayaan UMKM

id Holding ultra mikro, sinergi bri pegadaian pmn, bri, pmn, pegadaian, umkm, bumn, sinergi bumn, holdingĀ bumn, usaha ultra mikro, pendanaan umkm, pendan

Perajn memproduksi kerajinan rotan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (14/5/2020). Presiden Joko Widodo menerapkan lima skema besar dalam program perlindungan dan pemulihan ekonomi di sektor UMKM saat pandemi COVID-19, termasuk merumuskan program khusus bagi usaha ultra mikro dan usaha mikro yang belum bersentuhan dan belum terjangkau lembaga keuangan maupun perbankan. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/aww.

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Yevri Sitorus menilai pembentukan perusahaan induk atau holding ultra mikro (UMi) yang menyinergikan tiga BUMN yaitu Bank Rakyat Indonesia, Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM), akan dapat mendorong ekosistem pembiayaan dan pelayanan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta ultra mikro.

Menurut Deddy, selama ini masih banyak nasabah Pegadaian dan PNM yang kurang mendapat literasi keuangan dan terjangkau layanan perbankan (unbankable).

"Biaya operasional Pegadaian dan PNM akan berkurang karena pengembangan bisnis mereka bisa berjalan satu pintu. Hal ini membuat ekosistem pembiayaan dan pelayanan untuk UMKM serta pelaku UMi dapat berjalan lebih luas serta berkesinambungan," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Politikus PDI Perjuangan itu menilai sinergi BUMN untuk ultra mikro akan membawa keuntungan dalam jangka panjang. Pasalnya, layanan bagi pelaku usaha ultra mikro diyakini semakin berkembang.

Hasilnya, di masa depan pemerintah bisa semakin berkonsentrasi untuk memperkuat daya beli masyarakat untuk menyerap produk-produk UMKM dalam negeri.

"Pembentukan holding ini adalah strategi yang akan memberikan keuntungan dalam jangka panjang. Pembentukan holding pembiayaan ultra mikro adalah kebijakan sangat strategis dalam rangka membentuk ekosistem pembiayaan pelaku usaha ultra mikro secara sistematis dan berkelanjutan," tutur Deddy.

Sementara Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron berharap pembentukan holding ultra mikro dapat merekonstruksi ekonomi nasional ke sektor produktif di segmen masyarakat kelas bawah.

"Kami justru mendukung saja, karena ini bagus untuk rekonstruksi ekonomi nasional. Selama ini masih banyak pembiayaan condong ke sektor korporasi seperti properti besar," katanya.

Dengan integrasi tersebut, lanjut Herman, BRI, Pegadaian, dan PNM akan menjadi lebih kuat dari sisi data dan penghimpunan dana masyarakat. Hal itu pada akhirnya akan berdampak pada bunga yang lebih terjangkau dan akselerasi pembiayaan yang lebih kuat ke segmen mikro.

Dia pun berharap tren ini akan memperbaiki kualitas ekonomi dari sektor ultra mikro sehingga diikuti lebih banyak lagi bank-bank nasional lainnya.

Herman menambahkan segmen mikro terbukti paling tahan dalam masa pandemi. Kejutan awal pandemi dapat dibalikkan kembali dengan peningkatan operasional bisnis dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini pun cukup membantu banyak perusahaan di sektor keuangan termasuk BRI dalam menjaga kualitas pembiayaan di masa pandemi.

Di samping itu, Herman menyampaikan Komisi VI pun akan tetap mengawal kinerja holding ultra mikro untuk tetap menjalankan misinya mengembangkan UMKM.

"Kami pun juga akan tetap mengawal perusahaan tersebut tetap sehat dan mampu menghasilkan laba yang baik untuk pemegang saham khususnya pemerintah," tegas Herman.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, saat ini 65 persen dari kurang lebih 54 juta pelaku usaha ultra mikro belum terlayani lembaga keuangan formal. Padahal, pelaku usaha mikro mendominasi wirausahawan di Indonesia.

Sinergi tiga BUMN untuk ultra mikro ditargetkan memperluas pendanaan bagi kurang lebih 29 juta pelaku usaha ultra mikro di 2024 mendatang.

Baca juga: Erick Thohir ungkap target dan harapan holding ultra mikro
Baca juga: Erick Thohir sebut sinergi BRI-PNM-Pegadaian untuk dukung UMKM
Baca juga: Pegadaian dan PNM nilai integrasi BUMN ultra mikro banyak manfaat

 

Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar