LIPI lakukan studi paleotsunami ketahui potensi bencana di Indonesia

id rakornas bnpb, lipi,Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, tsunami, mitigasi bencana

Tangkapan layar - Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam peluncuran buku "Kependudukan dan Pembangunan: Persembahan untuk 80 Tahun Dr. Yulfita Raharjo" dipantau secara virtual dari Jakarta, Jumat (11/12/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan studi paleostsunami atau tsunami purba, selain menggunakan studi geologi umum, untuk mengetahui potensi bencana di suatu wilayah di Indonesia.

"Salah satunya ada di Kulon Progo, di mana saat ini sudah ada bandara internasional yang baru diresmikan dan sedang berjalan sehingga kita harus melakukan sesuatu untuk melakukan mitigasi yang lebih baik terkait dengan tsunami di selatan Pulau Jawa," ujar Kepala LIPI Laksana Tri Handoko di Jakarta, Kamis.

Hal tersebut dimaksudkan untuk mempercepat pemetaan potensi bencana tsunami, maupun potensi tsunami raksasa yang ditemukan oleh LIPI, seperti misalnya di wilayah selatan Pulau Jawa.

Baca juga: LIPI kembangkan teknologi mitigasi bencana berbasis riset fundamental

Tri mengatakan selama ini masyarakat berasumsi jeda waktu terjadinya tsunami rata-rata 15 menit setelah gempa terjadi, atau memang karena terjadi gempa besar.

"Makna itu diasumsikan sama seperti di Jawa dan Sumatera, padahal ternyata tidak terjadi seperti itu," kata dia.

Malah, para peneliti Indonesia menemukan banyak kejadian tsunami berjarak kurang dari 10 menit seperti di Aceh, Kepulauan Mentawai, Selat Sunda dan Palu, dan menemukan tsunami terjadi dalam waktu singkat.

Baca juga: BPPT akan pasang 13 buoy atau pendeteksi tsunami pada 2020-2024

Menurutnya, saat ini yang dibutuhkan untuk meminimalkan jumlah korban adalah sistem berbasis ponsel atau teknologi lainnya untuk menjangkau masyarakat di wilayah bencana dengan cepat, dan memperhatikan tata ruang wilayah, khususnya warga di daerah pesisir.

"Kita juga harus melakukan pendidikan publik atas ancaman tsunami berbasis karakteristik yang sifatnya lokal. Tidak hanya yang sifatnya umum, karena pengetahuan tradisional, local wisdom, local knowledge itu sangat penting dalam menyelamatkan masyarakat kit. Ini juga ditunjukkan dari kasus tsunami di Pulau Simeulue dan di Palu," ujar dia.

Baca juga: Peneliti: Perlu sistem birokrasi-anggaran ke pencegahan karhutla

Baca juga: Peneliti LIPI: Perlu keseriusan dalam upaya pengurangan risiko bencana

Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar