WHO: Distribusi sepihak negara penghasil vaksin kacaukan COVAX

id OrganisasiKesehatan Dunia (WHO),inisiatif COVAX,distribusi sepihak

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghadiri konferensi pers tentang wabah penyakit coronavirus (COVID-19) setelah kembalinya tim studi global yang diadakan WHO tentang asal-usul SARS-CoV- 2 di Jenewa, Swiss, 12 Februari 2021. ANTARA/Christopher Black / Organisasi Kesehatan Dunia / Handout melalui REUTERS/pri. (VIA REUTERS/Christopher Black/WHO)

Zurich (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis mendesak negara-negara penghasil vaksin COVID-19 untuk tidak mendistribusikan vaksin secara sepihak, melainkan mendonasikannya ke inisiatif COVAX global guna memastikan penyebaran merata.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan desakan tersebut saat China membahas kontrak di seluruh Afrika, Rusia mendistribusikan vaksin di Amerika Latin dan Uni Eropa mengincar pemberian vaksin untuk negara miskin, yang semuanya di luar inisiatif COVAX.

Tedros mengatakan negara-negara yang menyepakati kontrakan secara individu mengacaukan tujuan COVAX, yakni akses yang adil. Ia menambahkan inisiatif WHO bahkan dapat mengakomodasi permintaan dari negara yang "lebih memilih memberikan donasinya ke negara tertentu, lantaran mereka bertetangga atau karena mereka menjalin kemitraan."

"Apa yang bisa kami lakukan, jika itu melalui COVAX, yakni donasi dapat ditujukan ke negara-negara itu dan persediaan COVAX dapat diberikan ke negara lain," kata Tedros saat konferensi pers virtual dari Jenewa.

"Sehingga kami mampu mengimbanginya."

COVAX, yang juga didukung oleh Koalisi untuk Inovasi Persiapan Pandemi (CEPI) dan Aliansi Vaksin Gavi, akan mengirim jumlah kecil vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dan Pfizer, bahkan saat negara-negara kaya bergegas membeli sebagian besar dosis negara Barat.

Sementara itu, diplomasi vaksin sedang intens, dengan Rusia membahas pengiriman vaksin dengan Kroasia saat pengiriman pertama vaksin Sputnik V buatannya menuju Meksiko.

Dalam beberapa pekan belakangan China juga menawarkan ratusan ribu dosis ke Namibia, Republik Demokratik Kongo dan Guinea.

Uni Eropa sedang menyusun mekanisme berbagi vaksinnya sendiri, yang berpotensi melemahkan tekanan WHO.

Penasihat WHO, Bruce Aylward, mengatakan negara-negara Uni Eropa yang lebih kaya dan Kanada mendekati COVAX soal berbagi dosis, meski sampai saat ini tanpa hasil.

"Banyak kepentingan," kata Aylward, yang juga berbicara saat konferensi pers pada Kamis.

"Sayangnya, kami belum melihat maksud kepentingan itu ... terhadap (donasi vaksin) untuk COVAX."

Sumber: Reuters
Baca juga: Thailand pertahankan keputusan untuk tak bergabung dalam COVAX
Baca juga: Pengadaan vaksin global hadapi tantangan
Baca juga: Vatikan desak pertemuan DK PBB untuk pastikan distribusi vaksin adil

Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar