Saham Australia berakhir turun karena ketegangan dengan China

id saham Australia,indeks ASX 200

Seorang investor terpantul di kaca jendela depan layar yang menunjukkan harga saham di Bursa Efek Australia (ASX) di Sydney, Australia, Jumat (5/5/2017). ANTARA/REUTERS/Steven Saphore/aa.

Beijing (ANTARA) - Saham-saham Australia memperpanjang kerugian untuk sesi ketiga berturut-turut pada perdagangan Senin, karena ketegangan mendalam dengan mitra dagang terbesarnya China menyusul langkah Beijing memberlakukan tarif antidumping pada impor anggur Australia yang mengguncang investor.

Negara itu menanggapi dengan menantang China yang memberlakukan langkah-langkah antidumping sementara pada Jumat (27/11/2020) dengan mengatakan "perkembangan serius" tampaknya tentang keluhan diplomatik dan bukan tindakan apapun oleh pembuat anggur.

Indeks S&P/ASX 200 menetap 1,3 persen lebih rendah pada 6.517,8, menghapus kenaikan sebanyak 0,6 persen di awal sesi. Ini adalah penurunan terburuk dari indeks acuan sejak 4 November.

Baca juga: Saham Australia dibuka menguat terangkat reli sektor teknologi

Tetapi, indeks acuan membukukan kenaikan bulanan terbesar yang pernah ada pada November, didukung oleh optimisme seputar pemulihan ekonomi yang cepat setelah hasil pemilihan AS dan perkembangan terkait vaksin COVID-19.

Tarif impor yang diberlakukan oleh China membebani pasar yang lebih luas karena investor merefleksikan meningkatnya ketegangan antara Australia dan China, kata James Tao, analis pasar di CommSec, dilansir Reuters.

“Saat ini agak sulit. Sudah ada ancaman bahwa mungkin ada lebih banyak tarif, bea impor Australia di sektor lain juga ... Jika keadaan menjadi lebih buruk, Anda bisa melihat memburuknya hubungan politik antara kedua (negara) yang bisa berdampak negatif bagi perdagangan."

Ketegangan berkobar lebih jauh setelah Perdana Menteri Scott Morrison menuntut permintaan maaf dari Beijing tentang cuitan yang berisi gambar palsu seorang tentara Australia yang memegang pisau di tenggorokan seorang anak Afghanistan.

Tidak termasuk saham-saham teknologi, semua sektor berakhir di zona merah, dengan penambang yang bergantung pada China dan saham emas memimpin penurunan.

Saham Treasury Wines merosot hingga 11,8 persen setelah mengungkapkan rencana untuk mengalihkan ratusan ribu kotak anggur yang terikat China ke negara lain untuk menghindari tarif yang lumayan.

Saham utilitas dan perawatan kesehatan membantu indeks acuan S&P/NZX 50 Selandia Baru berakhir satu persen lebih tinggi, penutupan tertinggi dalam hampir dua minggu. Bursa membukukan kenaikan bulanan kedua berturut-turut.

Baca juga: Nikkei berakhir turun namun raih kenaikan bulanan terbesar 27 tahun
Baca juga: Saham Korsel setop untung beruntun, Indeks KOSPI jatuh 1,60 persen

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar