Kasus bunuh diri melonjak 200 persen sejak "lockdown"? Cek faktanya!

id hoaks corona,bunuh diri,pandemi covid-19,kesehatan mental,hoaks bunuh diri,hoax bunuh diri,hoaks covid,hoaks lockdown,hoax lockdown

ILUSTRASI: Seorang wanita yang mengalamai depresi berat dan berujung bunuh diri. ANTARA/Shutterstock/am.

Jakarta (ANTARA/JACX) - Kris Jenner, selebritas Instagram dengan jumlah pengikut 37 juta orang, menyebutkan angka bunuh diri telah melonjak hingga 200 persen sejak diterapkannya pembatasan bepergian (lockdown).

Unggahan ibu Kim Kardashian, yang juga pesohor asal Amerika Serikat itu, hingga Senin (23/11), telah disukai 138.000 pengguna lain Instagram dan mendapatkan 1.372 komentar.

Berikut tulisan Kris Jenner pada 15 November 2020 di Instagram yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia:

"Angka bunuh diri naik 200 persen sejak lockdown. Bisakah 2 teman melakukan screenshot dan membagikannya? Kami mencoba menunjukkan bahwa seseorang akan selalu mendengarkan.
Hubungi 1-800-273-8255 (Hotline AS)".


Apakah benar kasus bunuh diri naik hingga 200 persen sejak penerapan lockdown?
 
    View this post on Instagram           

A post shared by Kris Jenner (@krisjenner)


Penjelasan:
ANTARA tidak menemukan  data maupun penelitian resmi yang membuktikan angka kematian bunuh diri melonjak hingga 200 persen akibat penerapan lockdown.

The BMJ, perusahaan di Inggris yang fokus pada studi kesehatan, mengeluarkan sebuah jurnal tentang tren bunuh diri selama pandemi COVID-19 pada 12 November 2020.

Penelitian itu menyebutkan ada prediksi kenaikan kasus bunuh diri mulai dari satu hingga 145 persen sejak COVID-19 terjadi di dunia. Prediksi itu didasari sebuah studi tentang bunuh diri yang dilaporkan secara global.

Meski demikian, anggapan tersebut ternyata meleset.

Hasil laporan mengenai angka bunuh diri di negara berpenghasilan tinggi yakni Amerika Serikat, Inggris, Australia, Norwegia dan Jepang cenderung stagnan.

Pada awal bulan terjadinya pandemi di berbagai neggara, tidak tercatat peningkatan bunuh diri di Amerika Serikat, Inggris, Australia. Tapi terdapat penurunan angka bunuh diri di Norwegia dan Jepang. 

Bahkan di negara berpenghasilan rendah yang rentan gejolak emosi karena kesulitan ekonomi seperti Peru, angka bunuh diri justru mengalami penurunan.

Mengacu turnbackhoax.id, penasihat senior untuk Epidemiologi psikiatri dan pencegahan bunuh diri The National Institute of Mental Health, AS, Rajeev Ramchand menjelaskan belum ada data nasional di AS yang meringkas terkait jumlah kematian akibat bunuh diri, keinginan bunuh diri, atau jumlah orang yang berkeinginan bunuh diri selama pandemi COVID-19.

Rajeev menambahkan penghitungan angka kematian bunuh diri membutuhkan waktu lama untuk diidentifikasi.

Sementara menurut WHO Global Health Estimates, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2016 sebesar 3,4 /100.000 penduduk, dengan rincian untuk laki laki (4,8/100.000 penduduk) lebih tinggi dibandingkan perempuan (92,0/100.000 penduduk). 

WHO meramalkan pada 2020 angka bunuh diri di Indonesia secara umum menjadi 2,4 per 100.000 jiwa dan diperkirakan jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia sekitar 1.800 kasus per tahun, catatan Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat yang dipublikasikan pada 10 September 2020.

Klaim: Kasus bunuh diri melonjak 200 persen sejak lockdown
Rating: Salah/Misinformasi
 
Baca juga: Singapura awasi banyaknya kasus bunuh diri pekerja migran saat pandemi

Baca juga: Jalan-jalan di alam bantu Anda tetap waras selama pandemi COVID-19

Baca juga: 40 Persen warga Korsel alami masalah kesehatan mental akibat COVID-19

Pewarta : Tim JACX
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar