Menjadi mata dan telinga untuk Jakarta

id MH Thamrin Award,PWI,Atal Depari,MH Thamrin,Anies Baswedan,Omnibus Law,Patung Kuda

Gubernur DKI jakarta Anies Baswedan dan Ketua Umum PWI pusat Atal Sembiring Depari berfoto bersama dengan para peraih MH Thamrin Award 2020 di Ruang Pola, Komplek Balaikota DKI Jakarta, Senin (2/11/2020). (ANTARA/Ricky Prayoga)

Jakarta (ANTARA) - Di tengah cuaca cerah berawan dan angin sepoi-sepoi, sejumlah peristiwa penting berlangsung di DKI Jakarta pada Senin (2/11).

Peristiwa-peristiwa itu menghiasi laman-laman beragam platform media. Dari media sosial, media cetak, dan media dalam jaringan (online), layar kaca hingga radio.
Sejumlah massa dari elemen buruh berunjuk rasa di depan kawasan Patung Arjunawiwaha atau Patung Kuda, Jakarta, Senin (2/11/2020). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj)

Dalam satu hari itu--dari sederet peristiwa penting--ibu kota diguncang dua demonstrasi dalam skala massa cukup besar. Juga ada sejumlah peristiwa lainnya.

Pertama, massa buruh memenuhi sekitar Patung Kuda Arjuna Wiwaha. Mereka berunjuk rasa untuk menolak Omnibus Law UU Cipta Lapangan Kerja.

Baca juga: Pembangunan embung di lokasi rawan banjir Jakarta Barat dipercepat

Kedua, di jarak hanya ratusan meter dari Patung Kuda, massa memenuhi depan Kedutaan Besar Prancis di Jalan Muhammad Hoesni  Thamrin (Jakarta Pusat). Mereka berasal dari elemen sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam.

Kedua aksi itu berjalan tertib dan kondusif. Namun beberapa orang diamankan oleh aparat Kepolisian karena diduga mencopet barang berharga berupa telepon seluler milik peserta aksi.

Ketiga, dari Istana Merdeka diumumkan bahwa Presiden Joko Widodo telah menandatangani Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja sehingga resmi menjadi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Dilihat dari laman setneg.go.id, UU Nomor 11 Tahun 2020 tersebut ditandatangani pada Senin, 2 November 2020 dengan Nomor Lembaran Negara (LN) 245 dan Nomor Tambahan Lembar Negara (TLN) 6673.
Massa menginjak poster Presiden Prancis Emmanuel Marcon dalam aksi unjuk rasa terkait gambar Nabi Muhammad SAW di Kedubes Prancis, Jakarta, Senin (2/11/2020). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras)

Wabah
Di tempat berbeda, berlangsung seremoni tahunan yang diselenggarakan PWI Jaya bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ajang ke-46 tahun itu adalah penganugerahan Muhammad Hoesni Thamrin Award 2020.

Penyerahan piala kepada para pemenang dilakukan oleh Gubernur Anies Rasyid Baswedan di Ruang Pola Gedung G Komplek Balaikota DKI Jakarta. Kepala Dinas Kominfo dan Statistik DKI Jakarta Atika Nur Rahmania pun hadir di ruang itu.

Karena adanya wabah virus corona (COVID-19) seremoni ini dilakukan dengan pembatasan tempat. Acara pun digelar dengan peserta sangat terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat.

Di samping ketujuh pemenang, undangan lainnya adalah perwakilan sponsor. Salah satunya, Steven Setiabudi Musa, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta.

Baca juga: Kodam Jaya siapkan perahu fiberglass untuk tanggulangi banjir Jakarta

Sponsor lainnya adalah Djarum Foundation, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), FIF, Bank BNI, Pegadaian, Bank DKI, Bank BRI serta Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Penghargaan diberikan kepada wartawan atas karya jurnalistiknya mengenai Jakarta. Yang diseleksi adalah karya jurnalistik yang tayang atau siar dalam kurun waktu setahun terakhir.

Karena itu, penghargaan ini adalah agenda tahunan dan sering dikaitkan dengan HUT DKI Jakarta setiap 22 Juni. Periode seleksi untuk anugerah ini mulai 1 Juni hingga 31 Mei tahun berikutnya.

Kejutan
Berbeda dengan penghargaan karya jurnalistik lainnya, panitia seleksi untuk Muhammad Hoesni (MH) Thamrin Award proaktif memantau dan mengumpulkan karya jurnalistik tentang Jakarta.

Jadi, selain menerima karya jurnalistik dari kiriman peserta, panitia juga "berburu" bahan seleksi karya jurnalistik yang sudah disiarkan dalam kurun waktu setahun terakhir.

Karena itu, sering menjadi kejutan bagi pemenang. Penilaian oleh dewan juri yang berpengalaman di media massa dilakukan secara tertutup, kemudian melakukan konfirmasi kepada nominator.

Pada MH Thamrin Award 2020 juga demikian, pembuat karya jurnalistik yang sudah dinilai menang, ketika dikonfirmasi pun terkejut. Hal itu karena tidak merasa mengirim naskah untuk suatu lomba tetapi dikabari menjadi penenang.

Itulah kejutan (surprise) dari penghargaan ini. Sebagai wartawan, karya jurnalistiknya dipantau, diseleksi dan dinilai secara "diam-diam". Siapa yang tidak terkejut tiba-tiba dikonfirmasi melalui telepon, lalu disampaikan agar datang ke balaikota untuk menerima MH Thamrin Award?

Baca juga: Anies Baswedan: Jurnalis tak perlu ragu gunakan istilah daerah

Inilah bedanya penghargaan ini. Mekanisme ini menjadikan setiap wartawan di DKI Jakarta termotivasi menghasilkan karya jurnalistik sebaik mungkin.

Mekanisme seperti itu juga memacu munculnya karya jurnalistik yang dilatari hati yang tulus sesuai makna dan nilai-nilai dasar jurnalistik. Adapun kalau akhirnya jadi peraih MH Thamrin Award, itu adalah bonus.

Namun mekanisme itu mengharuskan dewan juri bekerja ekstra keras karena tidak hanya mengandalkan kiriman naskah dari peserta. Tetapi juga mengumpulkan karya jurnalistik tentang Jakarta yang ada di beragam media.

Pemenang
Ketua Panitia MH Thamrin Award 2020 Kesit Budi Handoyo mengakui kerja keras harus dilakukan dalam melakukan seleksi karya jurnalistik untuk anugerah ini. Seleksi kali ini dilakukan terhadap lebih 700 karya.

Dalam memberikan penghargaan panitia dan dewan juri telah menyaring dengan ketat. Lewat seleksi yang ketat dan proses penilaian yang objektif, dewan juri memilih tujuh pemenang dari tujuh kategori dan masing-masing ada dua nominasi.

Kategori Tajuk Rencana diraih untuk judul "Atasi Ketimpangan Kota (Koran Tempo, 26 Februari 2020). Kategori Produk Jurnalistik Teks untuk judul "Wabah dan Sampah di Ibu Kota" (Sri Muryono, Antaranews.com, 27 April 2020).

Kategori Produk Jurnalistik Foto untuk foto "Menengok Tempat Pesan Makanan Pakai Tali Ember di Ibu Kota" (Yoki Alvetro, detik.com, 14 Desember 2019. Produk Jurnalistik Infografis untuk juduk "Data Pemantau COVID-19 DKI Jakarta" (medcom.id, 20 Maret 2020).

Kategori Produk Jurnalistik Video TV Terestrial diraih "Aiman--Banjir Raksasa di Jabodetabek (Kompas TV, 11 Januari 2020). Untuk Produk Jurnalistik Video TV Streaming untuk karya jurnalistik "Membendung Banjir Jakarta"(kumparan.com, 27 Januari 2020).

Produk Jurnalistik Audio diberikan untuk karya jurnalistik "Mitigasi Bencana Tantangan Proyek Fase 2 MRT Jakarta, Menjawab Tantangan Dunia" (Danang Sundoro, RRI, 1 Maret 2020).

"Semoga karya para pemenang bisa menjadi cambuk bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk berkarya lebih baik," ungkap Kesit.

Menurut Ketua Umum PWI Pusat Atal Sembiring Depari, pers sesuai fungsinya telah mengiringi perkembangan Jakarta. Karena itu, kolaborasi untuk memberi penghargaan ini penting.

Seremoni penyerahan anugerah MH Thamrin 2020 ini dilakukan sehari setelah Jakarta meraih "Sustainable Transport Award" (STA) 2021. Atal pun menyatakan pers ikut berperan dalam keberhasilan itu.

Kritik
Gubernur Anies Rasyid Baswedan mengapresiasi terselenggaranya ajang penghargaan ini. Meski ada wabah COVID-19, panitia dan dewan juri tetap bisa melaksanakan tugasnya.

Harus disadari bahwa menjadi juri untuk penghargaan ini bukanlah suatu yang mudah dan tidak sederhana. Apalagi dalam sebuah karya jurnalistik yang biasanya menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Penghargaan ini bukan sesuatu yang sederhana (simple), tetapi mencerminkan kerja keras dan kerja serius. Dalam melakukan penjurian dalam kegiatan yang bekerjasama dengan pemerintah provinsi, juri tetap menjaga kredibilitasnya dengan memberikan penghargaan terbaik kepada karya jurnalistik yang mengkritisi pemerintah ibu kota.

Salah satu pemenang dalam Kategori Produk Jurnalistik Video TV Terestrial dengan judul "Aiman--Banjir Raksasa di Jabodetabek" tergolong memberikan kritik yang cukup keras untuk Pemprov DKI Jakarta, khususnya Gubernur Anies Baswedan.

Ini tentu menjadi catatan penting bahwa dalam sebuah penghargaan jurnalistik yang dilakukan oleh PWI dan pemerintah daerah, tidak melulu karya yang memuji-muji saja yang bisa memenangkan penghargaan. Melainkan yang memberikan kritik juga diapresiasi.

Gubernur juga menyampaikan terima kasih kepada media yang sudah merekam kejadian di Jakarta dan menghadirkannya dalam sebuah berita. "Kita sama-sama sadar, apapun yang kita kerjakan di dalam pemberitaan itu punya unsur mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Anies.

Ia juga mengakui terdapat peristiwa bencana di Jakarta yang menjadi pemenang karya jurnalistik. Misalnya, peristiwa banjir besar di Jakarta pada Januari 2020 yang lebih disebabkan curah hujan yang tertinggi selama 150 tahun. Peristiwa itu merupakan peristiwa bersejarah.

"Jadi kejadian pada Januari 2020 itu akan dikenang pada tahun-tahun yang amat panjang," ungkap Anies.

Menurut Anies, banjir besar dan luas di Jakarta pada Januari 2020 tidak terelakkan. Dari pengukuran dengan alat ukur curah hujan, kemampuan seluruh saluran air di Jakarta hanya mampu menampung 100-150 milimeter (mm) air, tetapi curah hujan saat itu 377 mm.

Untuk tahun mendatang, Anies berharap prestasi yang diperoleh Pemerintah DKI dalam meraih penghargaan STA 2021 bisa menjadi materi yang layak untuk masuk dalam penjurian Anugerah Jurnalistik MH Thamrin 2021.

Sebagai pemenang, Aiman Witjaksono yang bersama timnya membuat liputan banjir awal tahun ini mengakui Anies sebagai Gubernur yang terbuka terhadap kritik. "Kami juga membuat liputan itu berimbang," kata Aiman.

Yakni, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Gubernur Anies untuk menjawab pertanyaan dari masyarakat tentang banjir saat itu.

Dari podium, Atal pun mengapresiasi keterbukaan Anies Baswedan terhadap kritik mengenai program dan kebijakannya.

Anies, kata Atal, bukan hanya kebal kritik tetapi juga kebal hoaks.

Pewarta : Sri Muryono
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar