Menristek: Sinergi 'triple helix' kunci utama penguatan inovasi

id menristek,bambang ps brodjonegoro,triple helix

Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro. (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pentingnya sinergi 'triple helix' (akademisi, pengusaha dan pemerintah) sebagai kunci utama penguatan inovasi bangsa Indonesia pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25.

"Pada peringatan Hakteknas ini saya ingatkan kembali, Indonesia harus bertransformasi dari 'efficiency driven economy' menjadi 'innovation driven economy', di mana menggerakkan perekonomian dengan basis pemanfaatan teknologi dan menjadi negara maju melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi," kata Menristek Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Jakarta, Selasa.

Hal itu disampaikan Menristek Bambang dalam Seminar dan Pameran Virtual Hakteknas ke-25 yang berjudul Pameran Virtual Inovasi Karya Teknologi dan Manajemen Penanganan COVID-19.

Triple helix merupakan sinergi antara akademisi, industri dan pemerintah sehingga seluruh hasil riset dan inovasi yang dihasilkan para akademisi bisa menjawab kebutuhan bangsa dan industri serta dapat dihilirisasi.

Baca juga: Wapres: Sinergi "triple-helix" kunci penguatan inovasi

Pada acara itu, Menristek Bambang menuturkan untuk mewujudkan Indonesia menjadi 10 besar perekonomian dunia pada 2030 dan negara maju pada 2045, maka diperlukan perubahan paradigma dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan inovasi oleh sumber daya manusia Indonesia, sebagai basis pengembangan dan penguatan daya saing bangsa.

Pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) mengadakan seminar dan pameran teknologi virtual bersama 34 perguruan tinggi se-Indonesia.

Kegiatan itu diadakan melalui kerja sama Kemristek/BRIN, Forum Dekan Teknik Indonesia (FDTI), dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pameran teknologi virtual tersebut merupakan kegiatan pertama di Indonesia dan menggunakan aplikasi pertemua virtual akibat kondisi pandemi saat ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menuturkan sebanyak 1.000 karya dan inovasi teknologi di bidang pendidikan tercipta dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia di tengah pandemik COVID-19.

Baca juga: Menteri: Kolaborasi triple helix dorong kemandirian mobil listrik 2025

Mendikbud Nadiem mengapresiasi kemauan dan motivasi untuk berinovasi sangat besar di perguruan tinggi.

"Tidak kurang dari 1.000 karya Inovasi dan teknologi telah dihasilkan dalam satu semester kemarin. Bisa di bayangkan dalam satu semester kemarin saja, 1.000 karya Inovasi dan teknologi telah tercipta di dalam perguruan perguruan tinggi kita. Artinya, meskipun dalam masa krisis, kemauan dan motivasi untuk berkreasi untuk berinovasi di pendidikan tinggi kita begitu besar dan ini harus kita semua bersama menjemput bola, baik dari pemerintah pusat, para rektor, para dekan maupun mahasiswa-mahasiswanya juga harus menjemput bola, didukung dan diakselerasi," ujar Mendikbud Nadiem.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sekaligus Ketua Forum Dekan Teknik Indonesia Nizam yang menginisiasi pameran virtual teknologi mengharapkan acara itu menjadi solusi kegiatan di tengah pandemi COVID-19.

Dalam pameran tersebut, tayangan dimodifikasi dengan sejumlah adaptasi digital sehingga lebih menarik dan menjadi model baru pameran virtual.

Baca juga: Triple Helix nasional masih harus diperjuangkan
 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar