Pakar dorong komunikasi efektif ilmuwan-pemerintah atasi COVID-19

id Pakar, Komunikasi, COVID-19, Ilmuwan, Pemerintah

Anggota Tim Pakar Laboratorium Diagnostik Gugus Tugas Nasional Pratiwi P. Sudarmono dalam diskusi webinar bertajuk, Polemik: Sains, COVID-19 dan Komunikasi Publik yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9, di Jakarta, Jumat (3/7/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Tim Pakar Laboratorium Diagnostik Gugus Tugas Nasional mendorong komunikasi yang efektif antara ilmuwan dan pemerintah agar masyarakat dapat diedukasi dan memahami situasi, sehingga penanganan COVID-19 dapat lebih mudah dilakukan.

"Jadi edukasi publik saya rasa sangat penting untuk menghilangkan polemik," kata Anggota Tim Pakar Laboratorium Diagnostik Gugus Tugas Nasional Pratiwi P. Sudarmono dalam diskusi webinar bertajuk, Polemik: Sains, COVID-19 dan Komunikasi Publik yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9, di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan kompleksitas masalah yang muncul selama pandemi COVID-19 sebenarnya terjadi karena masyarakat kurang diedukasi dan karena sebagian lainnya antisains, atau tidak percaya terhadap sains.

Antisains, kata dia, sebetulnya timbul karena besarnya harapan masyarakat terhadap sains tetapi harapan tersebut sering kali tidak dapat dipenuhi.

"Contoh obat kanker diharapkan bisa mengobati kanker. Namun, kita mencari obat kanker itu sampai sekarang tidak ketemu. Sehingga masyarakat merasa tidak ada gunanya memakai obat-obatan yang dikembangkan oleh para ilmuwan," kata dia.

Kemudian, selain antisains, masyarakat juga, menurutnya, lebih lanjut mengembangkan antitesis-antitesis baru menurut versi mereka sendiri.

Baca juga: Pakar: Ada komunikasi yang salah ketika masyarakat tolak tes COVID-19

Baca juga: MUI-BNPB komunikasi penanggulangan COVID-19 melalui ulama


"Misalnya mereka mengatakan bahwa kita semua tidak perlu menggunakan vaksin karena Tuhan telah memberikan kekebalan kepada kita. Apalagi kepada anak-anak karena anak-anak sudah memperoleh kekebalan dari ibunya," katanya lebih lanjut.

Dengan adanya antitesis-antitesis baru itu kemudian terbentuk lah suatu kelompok masyarakat yang antivaksinasi, yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

"Jadi sekarang yang penting bagaimana mengomunikasikan sains tersebut dengan baik," katanya.

Ia mengakui bahwa komunikasi sains antara ilmuwan, pemerintah dan masyarakat saat ini lemah.

"Saya sendiri ilmuwan mengalami kesulitan luar biasa untuk mengomunikasikan dalam bahasa awam mengenai sains ini," ujar dia.

Sehingga kompleksitas masalah yang muncul selama pandemi juga menjadi semakin ruwet karena masyarakat tidak teredukasi dengan baik, sementara komunikasi antara ilmuwan dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan juga tidak dijembatani dengan baik.

"Jadi di satu sisi sains itu ruwet, dan lebih ruwetnya itu kalau dikomunikasikan tidak dengan cara yang baik, malah ditangkap dengan lebih ruwet lagi," katanya.

Oleh karena itu, ia mendorong agar komunikasi antara ilmuwan dan pemerintah diperbaiki lebih baik lagi.

Kemudian, ia juga mendorong adanya badan atau lembaga yang dapat menjembatani hubungan komunikasi semua pihak sehingga harapan yang diinginkan oleh setiap pihak dapat dikomunikasikan dengan lebih baik dan pada akhirnya menghasilkan kebijakan yang dapat dimengerti dan dijalankan oleh semua pihak, terutama dalam penanganan COVID-19 saat ini.

Baca juga: Penyampaian pesan sederhana COVID-19 jadi tantangan komunikasi publik

Baca juga: Pakar sebut kepemimpinan faktor penting dalam penanganan COVID-19

 

Pewarta : Katriana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar