Sejak muda sudah cuci darah, JKN-KIS bangkitkan semangat hidup Juliana

id cuci darah,bpjs kesehatan,jkn-kis

Peserta JKN-KIS asal Medan Juliana menjalani terapi cuci darah atau hemodialisa untuk pengobatan gagal ginjal. Juliana sempat menghabiskan Rp250 juta untuk pengobatan hemodialisa sebelum menjadi peserta JKN. (ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Salah seorang pasien cuci darah atau hemodialisa asal Medan Juliana telah menjalani terapi pengobatan untuk penyakit gagal ginjalnya tersebut sejak usia muda dan merasa terbantu oleh program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang memberikan semangat hidupnya.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis, Juliana telah menderita penyakit gagal ginjal pada tahun 2013 silam ketika masih berkuliah.

“Pertama kali saya divonis untuk cuci darah adalah waktu saya masih kuliah semester enam, tepatnya bulan Mei 2013. Awalnya badan saya bengkak dan lemas. Saya pun langsung diperiksa di rumah sakit. Di sana baru ketahuan ternyata saya mengalami gagal ginjal,” tutur Juliana yang sekarang berusia 25 tahun.

Juliana yang baru sempat tiga kali cuci darah memutuskan untuk berhenti karena memikirkan biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tuanya. Bahkan ia sempat tiga bulan tidak melakukan prosedur cuci darah sampai akhirnya tubuh Juliana benar-benar drop.

"Terpaksa kembali saya melakukan cuci darah. Selama setahun cuci darah, biaya yang sudah dikeluarkan keluarga saya mungkin sudah mencapai Rp250 juta. Rasanya ingin menangis setiap hari, tidak tega sama orang tua," kenangnya sedih.

Baca juga: Legislator minta pasien cuci darah diprioritaskan dibantu

Baca juga: RSUD M Zein Painan maksimalkan pelayanan cuci darah


Ketika JKN-KIS hadir pada tahun 2014, Juliana merasa memiliki sebersit harapan baru muncul di hadapannya. Ia pun segera mendaftarkan diri menjadi peserta JKN-KIS. Kini Juliana selalu menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk menjalani setiap cuci darah yang sudah berlangsung kurang lebih lima tahun belakangan.

“Entahlah, kalau tidak ada Program JKN-KIS ini berapa banyak lagi uang yang harus dikeluarkan untuk cuci darah. Apalagi setahun belakangan ini saya sudah disuruh untuk tiga kali seminggu cuci darah. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Program JKN-KIS ini,” ungkap Juliana.

Juliana yang sempat merasakan sebagai pasien umum mengaku tidak pernah mendapat pelayanan yang berbeda semenjak ia menjadi peserta JKN-KIS. Juliana berharap, masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS bisa segera mendaftarkan diri dan keluarganya selagi sehat.

"Jika jatuh sakit, tidak perlu risau memikirkan biaya. Mungkin untuk berobat sekali dua kali dengan uang sendiri, masih mampu. Tapi kalau harus dilakukan seumur hidup seperti cuci darah yang saya alami, pasti ada titik dimana kita tidak mampu lagi menanggung biayanya. Oleh karena itu, sebaiknya kita mendaftar JKN-KIS mumpung masih sehat," sarannya.

Baca juga: Peserta akui dapat manfaat besar JKN setelah 4 tahun jalani cuci darah

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar