Penerima manfaat respon COVID-19 Muhammadiyah capai dua juta jiwa

id Pp muhammadiyah,muhammadiyah peduli,Penerima manfaat,covid-19

Wakil Ketua Bidang Kerjasama dan Advokasi MCCC PP Muhammadiyah dr Corona Rintawan saat diskusi daring dengan tema "Dukungan Relawan Organisasi Keagamaan dan Relawan Indonesia Bersatu" di Jakarta, Kamis (14/5/2020). (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Total penerima manfaat respon terkait pandemi COVID-19 dari organisasi Islam Muhammadiyah hingga Selasa (12/5) yakni 2.035.405 jiwa dengan dana yang digelontorkan mencapai Rp123 miliar.

"Sampai saat ini Muhammadiyah dan 'Aisyiyah sudah mengeluarkan dana Rp123.522.628.068 untuk program-program edukasi promosi di luar rumah sakit," kata Wakil Ketua Bidang Kerjasama dan Advokasi MCCC PP Muhammadiyah dr Corona Rintawan saat diskusi daring dengan tema "Dukungan Relawan Organisasi Keagamaan dan Relawan Indonesia Bersatu" di Jakarta, Kamis.

Penerima manfaat respon COVID-19 tersebut juga meliputi pembagian masker pada 326.874 jiwa, penyemprotan disinfektan untuk 48.605 titik, pembagian cairan pembersih tangan atau hand sanitizer untuk 87.530 jiwa serta banyak program lainnya.

Selain menyalurkan bantuan pada para penerima manfaat tersebut, Muhammadiyah juga melakukan pengumpulan data terkait relawan termasuk pula para tenaga kesehatan di rumah sakit yang memang juga dikategorikan sebagai relawan.

Baca juga: Haedar Nashir: Membantu dhuafa melawan COVID-19 "jihad fi sabilillah"

Baca juga: Lewat Program "Mbangun Desa", siswa di Magelang bagikan ribuan masker


"Total relawan kita ada sekitar 40.000 orang," ujarnya.

Secara umum, kegiatan Muhammadiyah dalam penanganan COVID-19 telah dimulai sejak 6 Maret ketika dibentuknya gugus tugas dimana pada saat itu telah langsung terstruktur untuk melakukan sosialisasi hingga ke jajaran di bawah.

Apalagi Muhammadiyah juga memiliki ratusan rumah sakit dan perguruan tinggi sehingga dapat implementasi untuk imbauan, surat edaran serta instruksi dapat segera diimplementasikan.

"Jadi kegiatan program pembatasan jarak fisik tidak hanya sekadar imbauan, namun juga instruksi. Bahkan kami juga mengevaluasi yang membandel secara persuasif," katanya.

Selain fokus pada penerima manfaat, Muhammadiyah juga telah meluncurkan kegiatan sadar faktor risiko diri sendiri (safari) sebagai salah satu bentuk edukasi pada masyarakat.

Ia mengatakan hal itu di samping terus berjalannya gerakan relawan, disinfeksi, fokus di bidang kesehatan serta edukasi-edukasi lainnya yang dilakukan secara promotif.*

Baca juga: Rapid test, tiga jamaah sholat tarawih di Makassar positif COVID-19

Baca juga: Muhammadiyah-Aisyiyah salurkan Rp78,6 miliar penyangga COVID-19

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar