Pembawa 5 juta petasan mengelabui petugas dengan surat jalan palsu

id Polres Indramayu,petasan,ramadhan

Wakapolres Indramayu Kompol Nanang Suhendar (kedua kanan) bersama Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Indramayu AKP Hamzah Badaru (kanan). (ANTARA/Khaerul Izan)

Indramayu (ANTARA) - Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Indramayu AKP Hamzah Badaru mengatakan dua pembawa 5 juta butir petasan ini mengelabui petugas dengan surat jalan palsu, di mana tertera keduanya membawa kerupuk ikan.

"Untuk mengelabui petugas kedua pelaku berpura-pura membawa kerupuk ikan," kata Hamzah di Indramayu, Kamis.

Baca juga: Polres Indramayu gagalkan peredaran 5 juta butir petasan

Baca juga: Polisi amankan ratusan petasan dari rumah korban ledakan

Baca juga: Polisi imbau pedagang tidak jual petasan


Dari surat jalan yang dibawa kedua pelaku CS (44) dan PK (33) tertera bahwa dalam truk mereka membawa kerupuk ikan serta udang yang akan dikirim ke Jakarta.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih mendetail lagi, ternyata di dalam truk tersebut terdapat sebanyak 5 juta butir petasan jenis korek.

"Kita memang sudah lama mengintai mereka dan saat diperiksa keduanya mengaku membawa kerupuk ikan sesuai surat jalan, tapi setelah kami periksa isinya petasan," ujarnya.

Sementara Wakapolres Indramayu Kompol Nanang Suhendar jutaan petasan tersebut akan dikirimkan ke Jakarta, untuk diedarkan di sana, apalagi saat ini merupakan bulan Ramadhan, di mana identik dengan keramaian petasan.

Menurutnya Satreskrim Polres Indramayu masih mendalami kasus ini untuk mencari tersangka lain karena dua orang yang ditangkap hanya sebagai sopir truk saja.

"Yang jelas kita masih dalami, siapa pemilik petasan ini. Karena kedua pelaku yang ditangkap merupakan sopir," katanya.

Atas perbuatannya lanjut Nanang, kedua tersangka akan dikenakan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat No. 12 Tahun 1951.

Dengan ancaman hukuman pidana mati, pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun.

Pewarta : Khaerul Izan
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar