BPBD Kota Batu lakukan pendataan korban angin kencang

id Angin Kencang Batu,BPBD Kota Batu,Bencana Angin Kencang

Atap ratusan rumah terlihat hancur usai diterjang angin puting beliung di desa Sumber Brantas, Batu, Jawa Timur, Senin (21/10/2019). (ANTARA FOTO/Unggul Prabowo/abs/wsj)

Kota Batu, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu sedang melakukan pendataan terkait dampak kerusakan yang terjadi akibat bencana angin kencang di tiga desa wilayah Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Sasmito mengatakan telah memberangkatkan tim penilai kerusakan ke tiga desa yakni, Desa Sumber Brantas, Desa Gunung Sari, dan Desa Sumbergondo. "Tadi sudah diberangkatkan, tim akan melakukan penilaian kerusakan. Besok mungkin selesai," kata Sasmito, di Kota Batu, Jawa Timur, Senin.

Berdasarkan data awal, saat ini tercatat 20 rumah di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Diharapkan, proses pendataan tersebut bisa rampung esok hari supaya bisa segera dilakukan perbaikan oleh pihak terkait.

Sementara itu, para pengungsi korban bencana angin kencang yang terjadi sejak Sabtu (19/10) sudah ditempatkan di tujuh titik posko pengungsian. Kebutuhan para pengungsi tercukupi dengan banyaknya bantuan dari berbagai pihak termasuk masyarakat.

Menurut Sasmito, jumlah pengungsi yang ada di tujuh posko pengungsian saat ini tercatat sebanyak 1.182 pengungsi. Jumlah tersebut bisa berubah sewaktu-waktu, karena terkadang para pengungsi tersebut keluar meninggalkan posko pengungsian.

Baca juga: Khofifah pastikan kebutuhan dasar pengungsi Kota Batu terpenuhi

Baca juga: Khofifah temui pengungsi korban angin kencang Kota Batu

Baca juga: Akibat angin kencang, listrik ribuan pelanggan PLN Kota Batu padam


Berdasarkan data BPBD Kota Batu, tercatat puncak jumlah pengungsi mencapai 1.357 jiwa, dimana sebanyak 278 jiwa mendapatkan pelayanan kesehatan baik di posko pengungsian maupun rumah sakit.

"Para pengungsi tercatat berkurang, ada yang keluar, ada yang masuk juga. Untuk makanan siap saji sudah mencukupi, ada beberapa kebutuhan yang masih diperlukan," ujar Sasmito.

Sasmito menambahkan para pengungsi tersebut akan tetap diimbau untuk berada pada posko pengungsian, sampai kondisi benar-benar aman. Saat ini, para pengungsi membutuhkan bantuan berupa selimut, alas tidur, popok bayi, obat-obatan dan vitamin, susu bayi, dan lainnya.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan nantinya, usai pendataan yang dilakukan BPBD Kota Batu, pihaknya akan segera untuk melakukan pembenahan. Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah, rumah tinggal, listrik, dan akses air.

"Kami akan lakukan perbaikan secepatnya untuk rumah tinggal, air, listrik, termasuk sarana sekolah terdampak," ujar Dewanti.

Sementara itu, salah seorang pengungsi warga Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Intan Yuliani (26) yang berada di posko pengungsian mengatakan bahwa hembusan angin kencang menghamburkan atap rumah yang dihuninya.

Angin yang cukup kencang tersebut, lanjut Intan, berlangsung sejak Sabtu malam dan belum berhenti hingga Minggu (20/10). Di tengah ketakutan, akhirnya Intan bersama keluarganya dievakuasi oleh BPBD Kota Batu.

"Atap rumah sudah rusak, para tetangga juga keluar rumah malam itu. Sampai hari Minggu, angin masih kencang, kemudian sore hari BPBD datang dan membawa kami," kata Intan.

Saat ini, para pengungsi ditempatkan di tujuh titik pengungsian, yakni di SDN 01 Punten, Balai Desa Punten, Balai Desa Sidomulyo, Posko BPBD Kota Batu, Balai Desa Sidomulyo, Posko Tulungrejo, dan rumah dinas Wali Kota Batu.

Pihak BPBD Kota Batu mengimbau kepada masyarakat yang akan menyalurkan bantuan makanan siap saji dan nasi kotak, untuk hari ini dihentikan karena bantuan yang sudah diterima sudah mencukupi.*

Baca juga: BNPB: Angin kencang sebabkan satu tewas di Kota Batu

Baca juga: Pemprov bantu percepatan pemulihan usai angin kencang di Kota Batu

Baca juga: Satu tewas dan seribuan warga Kota Batu mengungsi akibat angin kencang


Pewarta : Vicki Febrianto
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar