Imam besar: Indonesia perlu cetak biru wujud bangsa 50 tahun ke depan

id nasaruddin umar,radikalisme,kjeberagaman

Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar berbicara dalam Kuliah kebangsaan Kita Bersatu Membangun Indonesia: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya, Jakarta, Kamis (17/10/2019). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar mengatakan Indonesia memerlukan cetak biru untuk wujud atau wajah masyarakat dan bangsa Indonesia yang ingin dibentuk hingga 50 tahun ke depan dan seterusnya.

"Kira-kira 50 tahun akan datang wujud masyarakat Indonesia seperti apa yang mau kita bentuk, kita harus siapkan sekarang blue print (cetak biru) -nya," kata Nasaruddin dalam Kuliah kebangsaan Kita Bersatu Membangun Indonesia: Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya, Jakarta, Kamis.

Wajah masyarakat Indonesia saat ini dan akan datang yang ingin dibentuk harus dipikirkan dengan komprehensif agar menghindari radikalisme, intoleransi keberagamaan atau kekerasan yang akan bertahan di masa-masa akan datang.

Baca juga: Mahfud MD ingatkan pentingnya menjaga keberagaman
Tetapi, yang perlu dipertahankan ke depan adalah nilai-nilai positif dan ke-Indonesia-an seperti nilai persatuan dan kesatuan, toleransi, gotong royong serta keharmonisan dalam perbedaan.

Nasaruddin mengatakan untuk menciptakan masyarakat yang kuat dan lebih bersatu, maka perlu ada introspeksi untuk melihat perbaikan-perbaikan yang diperlukan termasuk dalam kurikulum yang mengarahkan pendidikan khususnya agama dan nilai-nilai moral bagi anak-anak bangsa Indonesia sejak dini.

"Kita perlu sama duduk bersama bagaimana menciptakan bangsa Indonesia lebih permanen ke depan. Ini memerlukan kerja kreatif, kerja keras, dan kecerdasan khusus," ujarnya.

Ia mengatakan jika tidak ada persiapan sejak dini, maka bagaimana akan dapat menjemput 50 tahun akan datang dengan mempertahankan wujud masyarakat Indonesia yang kokoh dan berlandaskan persatuan dan kesatuan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan semangat persatuan harus terus dijaga dengan menjunjung Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta tanpa memandang perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

"Saya yakin, seyakin-yakinnya, persatuan Indonesia akan selalu sentosa. Seperti kiambang-kiambang yang bertaut kembali, setelah biduk pembelah berlalu. Saya yakin, seyakin-yakinnya, dengan berpegang teguh pada semangat persatuan Indonesia, maka rumah besar kita tidak akan runtuh, tidak akan ambruk, dan tidak akan punah, tetapi justru berdiri tegak. Bukan hanya untuk 100 tahun, 500 tahun, tapi untuk selama-lamanya," kata Presiden Joko Widodo di depan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2019 di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan Jakarta, Jumat (16/8).

Baca juga: Imam Besar Istiqlal: Islam agama kemanusiaan

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar