Kemenkes: Perilaku merokok tingkatkan penyakit tidak menular

id 4th APCAT Summit,Pengendalian Tembakau,Penyakit Tidak Menular

SOSIALISASI ADVOKASI Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Tabalong Arianto memberikan pemaparan terkait Perda Kawasan Tanpa Rokok di Tanjung, Selasa (28/11). Sosialisasi ini dihadiri jajaran Dinas Kesehatan dan PKK dengan harapan bisa mengubah perilaku untuk tidak merokok sembarangan. Foto:Antaranews Kalsel/Herlina Lasmianti/G.

Kota Bogor (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan perilaku merokok memiliki andil dalam peningkatan kasus penyakit tidak menular di Indonesia.

"Tren penyakit tidak menular meningkat lebih dari 70 persen. Secara nasional penyakit tidak menular menyebabkan kehilangan tahun produktif lebih besar dibandingkan penyakit menular," kata Oscar dalam Pertemuan keempat Aliansi Kota-Kota Asia Pasifik untuk Pengendalian Tembakau dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (4th APCAT Summit) di Kota Bogor, Rabu.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan penyakit tidak menular menempati posisi tertinggi di 34 provinsi di Indonesia, kebanyakan berupa stroke, serangan jantung, penyakit pernafasan kronik, dan diabetes melitus.

Menurut Oscar, peningkatan penyakit tidak menular biasanya terjadi karena faktor tekanan darah tinggi dan kadar gula darah tinggi, yang dipicu perilaku tidak sehat seperti diet yang tidak sehat dan kebiasaan merokok.

"Program Kesehatan Indonesia dengan Pendekatan Keluarga menemukan keluarga dengan anggota yang salah satunya merokok sebesar 55,6 persen. Karena itu, perlu ada upaya pengendalian konsumsi tembakau di Indonesia," tuturnya.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan terdapat 15 juta kematian muda pada usia 30 tahun hingga 69 tahun di seluruh dunia setiap tahun.

Baca juga: Kemenkes: pembatasan iklan rokok pengaruhi perilaku merokok masyarakat

Sebanyak 7,2 juta kematian disebabkan konsumsi tembakau dan 70 persen di antaranya terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2018 menyebutkan penyakit katastropik menyebabkan pengeluaran tanggungan kesehatan hingga Rpp20,4 triliun atau 21,6 persen dari total pengeluaran.

"Sebanyak 51,5 persen dari 21,6 persen tersebut, atau Rp10,5 triliun untuk pengobatan penyakit jantung dan 16,7 persen atau Rp3,4 triliun untuk pengobatan penyakit kanker.

Lebih dari 100 pemimpin daerah dari 40 kota di 12 negara di Asia Pasifik bertemu di Kota Bogor, Jawa Barat untuk membicarakan praktik pengendalian tembakau dan penanganan penyakit tidak menular.

Pertemuan 4th APCAT Summit diselenggarakan bersama oleh APCAT, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Bogor, International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The Union), dan Kemitraan untuk Kota Sehat.

Kemitraan Kota Sehat adalah jaringan global 54 kota yang berkomitmen untuk mengurangi penyakit tidak menular yang diumumkan pada Mei 2017, dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mantan Wali Kota New York Michael R Bloomberg yang didukung Bloomberg Philanthropies bekerja sama dengan WHO dan Vital Strategies.

Baca juga: Nagan Raya terima penghargaan dari Kemenkes terkait larangan merokok

 

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar