Kemenristekdikti lakukan pemetaan ilmuwan diaspora

id Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kemenristekdikti lakukan pemetaan ilmuwan diaspora,ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri,simpos

Asisten professor Departemen Teknik Kimia dan Lingkungan di University of Nottingham Inggris, Bagus Putra Muljadi (kiri), dan Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Ditjen SDID Kemristekdikti Agus Susilohadi (kanan) saat berkunjung ke Redaksi Antara di Jakarta, Senin (26/8/2019). ANTARA/Anom Prihantoro/am.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyatakan akan melakukan pemetaan ilmuwan diaspora asal Indonesia yang saat ini berkarir di luar negeri.

"Kami sudah menyepakati dengan ilmuwan yang terlibat dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) untuk memperkuat basis datanya dan juga dipetakan kompetensinya," ujar Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Agus Susilohadi, saat berkunjung ke kantor ANTARA di Jakarta, Senin.

Untuk pendataan ilmuwan diaspora Indonesia tersebut, Kemenristekdikti bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Saat ini, lanjut Agus, pihaknya baru mendata sekitar 400 ilmuwan diaspora Indonesia. Diperkirakan jumlah ilmuwan diaspora lebih banyak lagi.

"Kami sudah berhasil membuat satu matrik rencana Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) hingga 10 tahun ke depan. Dari matrik itu diketahui apa saja kebutuhan SDM Indonesia ke depannya," kata dia.

Selain melakukan pemetaan, pihaknya juga akan menghubungkan ilmuwan diaspora di luar negeri dengan perguruan tinggi dan juga Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).

"Sebenarnya jika diamati lebih lanjut, kampus-kampus di Tanah Air mengalami kendala dalam hal fasilitas. Maka dengan dihubungkan dengan diaspora, maka akan membuka akses ke luar negeri."

Ia memberi contoh alat-alat di laboratorium kampus di dalam negeri, masih kalah jauh dibandingkan negara-negara tetangga. Padahal alat-alat terbarukan berkaitan dengan riset dan inovasi. Alat-alat laboratorium itu tersebar di seluruh dunia, akan tetapi masalahnya perguruan tinggi dalam negeri tidak punya akses.

"Nah, diaspora ini berperan dalam membuka akses. Kalau dibandingkan soal gedung kuliah, kita tidak kalah. Kita baru kalah sadar saat membuka laboratorium itu. Untuk kita sangat berharap, dengan semakin dekat dengan diaspora maka kita bisa mengejar ketertinggalan," jelas dia.

Sejak empat tahun terakhir, Kemenristekdikti mengundang para ilmuwan diaspora Indonesia melalui ajang SCKD. Ilmuwan diaspora Indonesia yang dimaksud adalah ilmuwan asal Indonesia yang saat ini berkarir di sejumlah perguruan tinggi di luar negeri.

SCKD 2019 diselenggarakan mulai 18 Agustus hingga 25 Agustus 2019. Melalui kegiatan tersebut, para diaspora disebar ke sejumlah perguruan tinggi di daerah untuk menjalin jejaring, membuka akses kerja sama luar negeri, dan juga membimbing dosen dalam penulisan jurnal.

Dari hasil SCKD 2018 lalu, kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan dalam negeri telah menghasilkan 25 jurnal yang sedang dikaji, 30 jurnal yang sudah didaftarkan, 18 jurnal manuskrip, 35 jurnal yang sudah diterima, 28 prosiding, 90 jurnal yang sudah publikasi,dan 18 konferensi hingga kursus pendek di universitas terbaik dunia.

Baca juga: Kemenristekdikti : diaspora bangun Indonesia dari belahan dunia

Baca juga: Diaspora bahasakan manajemen talenta sebagai "Kopassus Ilmuwan"

 

Pewarta : Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar