Elang bondol Kepulauan Seribu gunakan plastik untuk sarang

id Elang Bondol, sampah plastik, kepulauan seribu, JAAN

Satu dari empat elang bondol (Haliastur Indus) terbang bebas usai dilepasliarkan pada peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2019 di TWA Muka Kuning Batam, Kepri, Rabu (7-8-2019). ANTARA FOTO/F.B. Anggoro/pd.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Benfika mengungkap sarang elang bondol yang hidup berkoloni di Kepulauan Seribu terkontaminasi sampah plastik. "Sampah plastik saat ini mengancam elang. Ada perubahan perilaku berdasarkan pengamatan kami baru-baru ini," kata Benfika di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu, Minggu. Sejumlah elang bondol maupun Elang Laut di sekitar Pulau Kotok, Pulau Penjaliran, dan Pulau Rambut membuat sarang mereka dengan sampah plastik.
Baca juga: JAAN: Elang bondol di Kepulauan Seribu tersisa 18 ekor
Jenis sampah yang biasanya digunakan elang untuk sarang berjenis sandal jepit, styrofoam, sedotan, dan sejenisnya. "Sarang elang bondol sudah bukan lagi pakai ranting, melainkan sudah pakai plastik," katanya. Ben menyebut bahan plastik tersebut didapat dari perairan Jakarta yang kini terkontaminasi sampah rumah tangga. Ben mengimbau masyarakat untuk mengurangi sampah plastik karena bisa mengancam keselamatan satwa. "Jangan buang sampah sembarangan, yang buang di darat akan sampai ke laut dan bisa dimakan satwa atau digunakan jadi sarang," katanya.

Baca juga: Pertamina gelar konservasi elang bondol di Pulau Kotok Ben menambahkan bahwa populasi elang bondol di Jakarta kian mengkhawatirkan seiring dengan masifnya perburuan serta pasar gelap satwa. "Sampai 2014 tidak kurang dari 18 elang bondol yang tersisa di beberapa Kepulauan Seribu," katanya.

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar