Pemimpin oposisi Chad ditangkap di Prancis

id Chad,pemberontak Chad,UFR,UFDD,campur tangan Prancis

Chad.

Dakar (ANTARA) - Prancis telah menangkap pemimpin oposisi Chad bersama dua orang lainnya atas dugaan melakukan kejahatan kemanusiaan, kata kantor penuntut umum di Paris, Senin.

Jenderal Mahamat Nouri, yang pernah menjadi seorang menteri dalam pemerintahan di bawah Presiden Hissene Habre dan presiden saat ini Idriss Deby, bergabung dengan kelompok besenjata oposisi untuk melawan Deby pada 2006.

Nouri mendirikan Pasukan Persatuan untuk Demokrasi dan Pembangunan (UFDD), suatu koalisi pemberontak.

Dia mengasingkan diri ke Prancis pada 2010 setelah diusir dari Sudan tempat dia
melarikan diri setelah gagal melakukan kudeta terhadap Deby pada 2008.

Kantor kejaksaan di Paris mengatakan dalam suatu pernyataan kepada Reuters bahwa mereka sedang menyelidiki Nouri, "atas aksi yang dilakukan di Chad dan Sudan antara 2005 dan 2010," tetapi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Suatu kumpulan kelompok pemberontak, beberapa di antaranya yang bermarkas di perbatasan utara di Libya, berulang kali menantang pemerintahan Deby, melemahkan kekuatan Barat yang memandangnya sebagai kekuatan pertahanan di wilayah Sahel di Afrika Barat dari kelompok garis keras.

Pada Februari, Prancis, bekas penguasa  Chad, mengebom Kelompok  Perlawanan Uni Chad (UFR) atas permintaan Deby guna menghentikan pergerakan dari Libya selatan.

Prancis juga campur tangan pada 2008 untuk menghentikan UFDD dan pemberontak UFR yang akan menggulingkan Deby, yang berkuasa sejak 1990, sebagai pemimpin pemberontak bersenjata melawan Habre.

Pengamat internasional menuduh Deby memberantas lawan-lawannya dan mempertanyakan kejujuran dalam pemilihan umum yang membuat dia tetap berkuasa selama tiga dasawarsa.

Tahun lalu Deby menginisiasi suatu reformasi undang-undang yang menguatkan kekuasaannya dan membolehkan dia  terus berkuasa hingga 2033.

Sumber: Reuters

Baca juga: Ribuan orang melarikan diri akibat kekerasan di Afrika Tengah

Baca juga: Danau Chad krisis paling terabaikan meski berbahaya

Pewarta : Maria D Andriana
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar