Media pemerintah Suriah: gerilyawan tembaki desa dengan gas

id Allepo Suriah, Gas sarin klorin,OPCW,Observatorium HAM Suriah

Sejumlah anak, yang menurut keterangan aktivis terdampak serangan gas, bernapas melalui masker oksigen di kota pinggiran, Saqba, Damaskus, Rabu (21/8). Oposisi Suriah menuduh pasukan pemerintah menembakkan roket yang melepaskan gas beracun diatas kota pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak, menewaskan ratusan pria, wanita dan anak-anak saat mereka tidur. (REUTERS/Bassam Khabieh ) (Istimewa)

Beirut (ANTARA) -
Media pemerintah Suriah yang mengutip rumah sakit di Hama yang dikuasai pemerintah, Sabtu, mengatakan bahwa 21 orang mengalami gejala sesak nafas akibat gas beracun setelah gerilyawan menembaki sebuah desa.

Pemantau perang, Observatorium HAM untuk Suriah yang berbasis di Inggris juga melaporkan, bahwa 21 orang dengan gejala tercekik dirawat di rumah sakit, namun belum diketahui apakah ini berasal dari bahan kimia atau asap dan debu yang ditimbulkan dari penembakan tersebut.

Kantor Berita Nasional SANA mengutip kepala Rumah Sakit Nasional Saqilbia yang mengatakan serangan terjadi di desa al-Rasif. Pihaknya juga merilis gambar-gambar dan rekaman para korban yang berbaring di rumah sakit dengan menggunakan masker oksigen.

Daerah tersebut berada di dekat garis depan antara pemerintah Suriah dan wilayah kantong pemberontak besar terakhir di barat laut. Ditempat itulah pengeboman militer meningkat dalam beberapa pekan terakhir meskipun adanya kesepakatan antara Rusia dan Turki untuk mengakhiri perang.

Pada Jumat dan Sabtu, serangan udara di daerah yang dikuasai gerilyawan di barat daya menewaskan 15 orang termasuk empat orang anak. Sebanyak 25 orang lainnya terluka, kata Observatorium.

Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), yang bertindak sebagai pengawas global, telah mendokumentasikan penggunaan sistematis racun saraf sarin dan klorin selama konflik delapan tahun Suriah.

Dari 2015 hingga 2017, tim gabungan PBB dan OPCW ditunjuk untuk memastikan serangan gas di Suriah. Pihaknya menemukan bahwa pasukan pemerintah Suriah menggunakan sarin dan klorin dalam beberapa kesempatan. Sementara, ISIS diketahui menggunakan gas mustard sulfur.

OPCW sedang menyelidiki dugaan serangan gas pada November di Allepo yang dikuasai pemerintah. Akibat dugaan tersebut, sebanyak 100 orang jatuh sakit. Damaskus dan sekutunya Rusia menuding gerilyawan menjadi dalang di balik aksi tersebut.

Sumber: Reuters 

Baca juga: Laporan PBB salahkan Pemerintah Suriah atas serangan sarin
Baca juga: Badan pengawas temukan gas sarin di Suriah
Baca juga: Tim peneliti gas sarin Suriah sudah di Turki
Baca juga: Enam orang tewas dalam serangan gas di Suriah

Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Maria Dian A
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar