Xinjiang tolak permintaan EU bertemu pelaku kriminal

id Xinjiang,Uighur,Uygur,Ilham Tohti,UE Xinjiang,Uni Eropa Xinjiang,Xinjiang tolak UE

Juru bicara Pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang Xu Guixiang (kiri) dan Ilijan Anayat bergantian menjawab pertanyaan para pewarta dalam pengarahan pers di Beijing, Jumat (30/7/2021). ANTARA/M. Irfan Ilmie.

Beijing (ANTARA) - Otoritas Xinjiang menolak permintaan utusan dari Uni Eropa (EU) untuk bertemu para pelaku kejahatan di wilayah China barat laut itu.

"Siapa pun dipersilakan datang ke Xinjiang asalkan dengan niat baik. Kalau ada syarat untuk minta bertemu pelaku kejahatan, tentu saja tidak bisa," kata juru bicara Pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang, Xu Guixiang, dalam pengarahan pers di Beijing, Jumat.

Pernyataan tersebut menjawab pertanyaan seorang jurnalis asing mengenai tidak diizinkannya utusan EU untuk berkunjung ke Xinjiang.

"Siapa saja, termasuk EU boleh. Kami berharap agar semua pihak bisa bersikap objektif tanpa bias dan tidak membawa tuduhan macam-macam," ujarnya.

EU telah mengajukan permohonan kepada pihak Kementerian Luar Negeri China di Beijing agar bisa berkunjung ke Xinjiang.

Namun dalam permohonannya itu, para diplomat EU mengajukan permintaan untuk bertemu Ilham Tohti, seorang warga Xinjiang beretnis minoritas Muslim Uighur yang dipenjara seumur hidup atas tuduhan memprovokasi kerusuhan sosial dan tidak menjunjung kedaulatan China.

Baca juga: Ukraina mundur dari kesepakatan bersama tentang Xinjiang

Ilijan Anayat selaku juru bicara Xinjiang lainnya dalam kesempatan tersebut menyampaikan tentang kunjungan beberapa diplomat asing, termasuk dari Indonesia, ke wilayah setingkat provinsi terbesar di China itu.

Ia mendampingi delegasi tersebut ke beberapa kota di Xinjiang, yakni Kashgar, Yili, dan Urumqi, pada 21-27 Juli 2021.

"Kami menerima kedatangan mereka dengan penuh rasa hormat. Kami antar mereka bertemu warga, mengunjungi masjid, gereja, kuil, dan industri," ujar pejabat beretnis Uighur itu menjawab pertanyaan ANTARA.

Melalui kunjungan tersebut, Ilijan berharap masyarakat Indonesia bisa memahami situasi di Xinjiang secara objektif.

"Apalagi yang kami ajak keliling kemarin adalah seorang atase pendidikan sehingga kunjungan itu akan berdampak positif terkait Xinjiang dalam hubungan bilateral China dan Indonesia," katanya.

 Baca juga: Kebijakan China di Xinjiang disebut tekan angka kelahiran etnis Uighur

Atase Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kedutaan Besar RI (KBRI) di Beijing Yaya Sutarya bersama diplomat dari Rusia dan Israel mendapat kesempatan mengunjungi Xinjiang selama tujuh hari.

Sebelumnya, Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun dan Wakil Dubes Dino R Kusnadi juga pernah mengunjungi Xinjiang.

Sebelum pandemi, kalangan anggota DPR-RI, pejabat Polri, perwakilan ormas keagamaan, pelaku usaha, dan sejumlah awak media dari Indonesia pernah mendapatkan kesempatan yang sama. 

Baca juga: Grand Bazaar jadi objek favorit liburan Hari Buruh di Xinjiang 

 

Ibu kota Xinjiang jamin pasokan kebutuhan sehari-hari


Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar