Dukungan meningkat bagi gagasan pendanaan COVID dan iklim IMF

id Imf,International Monetary Fund,Dana Moneter Internasional,covid,iklim

Tangkap Layar Direktur Utama IMF Kristalina Georgieva menyampaikan sambutan pada pertemuan virtual antarmenteri keuangan “Ministers of Finance on Financing the 2030 Agenda for Sustainable Development in the Era of COVID-19 and Beyond” di New York, Amerika Serikat, Selasa (8/9/2020). ANTARA/HO-UNifeed.

London/Washington (ANTARA) - Rencana dana "Ketahanan dan Keberlanjutan" baru dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang akan memperluas dukungan ke puluhan negara yang lebih rentan, mendapatkan dukungan internasional yang penting pada hari Kamis, menjelang sejumlah pertemuan.

Pimpinan IMF Kristalina Georgieva bulan ini mengusulkan penyimpanan baru untuk memungkinkan negara-negara kaya menyalurkan sebagian dari cadangan IMF baru mereka kepada negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah yang terdampak berat oleh COVID atau perubahan iklim.

"Ini adalah sesuatu yang tentunya kami dukung" kata Lars Jensen, ekonom senior di Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dan penulis laporan baru tentang bagaimana pendanaan baru IMF harus diarahkan.

UNDP memperkirakan Dana Pertumbuhan dan Pengurangan Kemiskinan (PRGT) IMF, yang juga diharapkan memainkan peran kunci dalam redistribusi sukarela uang 'Special Drawing Rights' (SDRs) baru, hanya terbuka untuk 55 dari 82 negara berkembang yang paling rentan hutang.

Negara-negara kaya yang menjadi anggota Kelompok Group of Seven (G7) saja akan menerima 283 miliar dolar dari total 650 miliar dolar alokasi SDR. Semua negara "berpenghasilan tinggi" akan mendapatkan 438 miliar dolar, sedangkan 75 negara termiskin akan mendapatkan 62 miliar dolar total.

Krisis COVID diperkirakan akan membuat 47 dari 82 negara yang rentan memiliki hutang bruto yang telah berada di atas level yang dianggap berkelanjutan.

Selain itu, sembilan dari 10 negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim juga merupakan negara berkembang yang sangat rentan terhadap hutang.

"Sebagai kemungkinan tujuan pengembangan dari penyaluran SDR ke negara-negara yang rentan, adalah wajar untuk menargetkan iklim karena implikasi globalnya," kata Jensen, yang menambahkan bahwa dana tersebut bahkan dapat ditingkatkan dengan memanfaatkannya di pasar pinjaman.

Para pemimpin G7 telah mengisyaratkan dukungan mereka untuk mendistribusikan kembali 100 miliar dolar dari uang SDR baru. Georgieva mengatakan bahwa China telah menyatakan minatnya untuk berpartisipasi dan bahwa dia mengharapkan negara-negara berkembang utama lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Dewan eksekutif IMF akan bertemu pada hari Jumat mengenai langkah selanjutnya dan pejabat keuangan dari Kelompok 20 ekonomi utama (G20) akan membahas masalah realokasi SDR ketika mereka bertemu di Venesia pada bulan Juli mendatang.

Scott Morris dari Center for Global Development mengatakan pendanaan untuk simpanan IMF baru yang diusulkan sudah dialokasikan dalam permintaan anggaran Departemen Keuangan AS kepada Kongres baru-baru ini, yang menegaskan dukungan Washington.

Departemen Keuangan AS bekerja sama dengan IMF untuk mengeksplorasi opsi dan mekanisme desain untuk menyalurkan SDR ke negara-negara yang rentan, kata seorang pejabat Departemen Keuangan AS yang tak ingin namanya disebut kepada Reuters.

"Resilience and Sustainability Trust yang diusulkan IMF adalah salah satu opsi yang sedang dibahas," kata pejabat itu, tanpa merinci opsi lain.

Jensen mengatakan dia berharap dana baru itu juga akan memberi negara-negara yang kesulitan terkait hutang, yang sejauh ini menolak restrukturisasi hutang mereka karena takut kehilangan akses ke pasar pinjaman, jaring pengaman untuk mengambil langkah itu.


Sumber: Reuters
Baca juga: G7 terpecah tentang realokasi dana IMF ke negara-negara terkena COVID
Baca juga: Bank Dunia, IMF desak akses vaksin COVID-19 untuk negara berkembang
Baca juga: IMF khawatirkan negara kelas menengah terdampak pandemi


Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar