'Munggahan' ala Inggris, ruang silaturahmi jelang Ramadhan

id London,Munggahan,Inggris

Sebuah keluarga Indonesia berlibur di taman kota di Reading, Inggris, untuk menyambut datangnya Ramadhan pada Minggu, 11 April 2021. (ANTARA/Munawir Aziz)

London (ANTARA) - Bagi diaspora muslim Indonesia di Inggris, Ramadhan tahun ini tetap terasa istimewa sekalipun berlangsung di tengah pandemi COVID-19 yang belum usai.

Di tengah suasana penguncian (lockdown) di kota-kota Inggris Raya, warga muslim Indonesia yang bermukim di beberapa kota di negeri Ratu Elisabeth itu tidak melupakan tradisi silaturahmi. Apalagi jelang Ramadhan, tradisi ini dimanfaatkan untuk saling berbagi dan meminta maaf.

Biasanya pada waktu sebelum pandemi, orang-orang Indonesia di Inggris saling mengunjungi untuk berbagi makanan, bertukar sapa dan saling memaafkan. Mereka saling sapa sebagai sesama orang Indonesia yang bermukim di Inggris selama bertahun-tahun. Hidup di negeri seberang, seolah menguatkan sebagai saudara.

Yayah Indra, muslimah Indonesia di London, mengaku bahwa saling mengunjungi dan berbagi makanan merupakan tradisi muslim khas Indonesia di Inggris. Namun, suasana lockdown membuat interaksi menjadi berbeda. Untuk lockdown sesi tiga yang berlangsung hingga 12 April 2021 ini, Pemerintah Inggris membatasi pertemuan di luar ruangan hanya untuk dua keluarga atau maksimal enam orang, serta membatasi pertemuan di dalam ruangan.

“Kalau tidak sedang penguncian, acaranya makan-makan. Jadi kami saling bawa makanan sendiri-sendiri di satu tempat, entah itu di rumah saya, di rumah teman saya, jadi gantian. Nah, setelah lockdown ini kita tidak lagi ngumpul-ngumpul sesama orang Indonesia. Tapi, kemarin kita saling bagi-bagi makanan, istilah bahasa Jawanya itu munggahan begitu,” ungkap Yayah kepada Antara, Ahad (11/4).

Bagi Yayah, suasana Ramadhan tahun ini di tengah pandemi memang terasa sepi, namun harus tetap disyukuri. “Memang saat ini kita suasana masih sepi, belum boleh berkunjung ke rumah-rumah tetangga. Pertemuan di luar ruangan juga dibatasi. Namun, saya tetap bersyukur, diberikan kesehatan dan keselamatan. Semoga Ramadhan ini menjadi momentum untuk tetap bersyukur dan mengabdi,” terang Yayah, perempuan kelahiran Indramayu, Jawa Barat itu.

Yayah merupakan penggerak pengajian ibu-ibu muslimat di London dan Inggris Raya. Ia juga aktif menggerakkan kegiatan-kegiatan sosial dan kemasyarakatan untuk warga diaspora Indonesia di Inggris.

Cerita yang berbeda disampaikan oleh Suwondo, warga Indonesia yang bermukim di Southampton, kawasan pesisir selatan Inggris. Ia datang ke Inggris untuk kuliah master bidang Public Administration di University of Southampton. Bagi Suwondo, Ramadhan tahun ini merupakan pengalaman yang kedua di Inggris. Ia datang pertama kali ke Southampton pada akhir 2019 lalu.

“Kami mengisi waktu menjelang Ramadhan tahun ini dengan berlibur bersama keluarga. Ini juga sekaligus liburan Easter Break di Inggris, jadi anak-anak libur sekolah selama dua pekan, lumayan untuk jalan-jalan sekaligus menyegarkan pikiran. Jadi liburan dan menyenangkan keluarga menjelang Ramadhan,” kisah Suwondo, yang merupakan ASN di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Di tengah libur Paskah dan jelang Ramadan ini, Suwondo mengajak keluarganya untuk berkunjung ke beberapa kota yang dekat dengan tempat tinggalnya di Southampton. “Kami kemarin berkunjung ke taman wisata Badbury dan Kota Reading, mengunjungi taman-taman kota di kawasan itu. Kemudian, menelusuri Jurrasic Coast di kawasan Exmouth, East Devon, Dorset. Alhamdulillah, anak-anak senang dan pikiran menjadi segar. Semoga ketenangan jiwa dan perasaan bahagia menjadi bekal ibadah Ramadhan tahun ini,” terangnya.

Annisa Romadhona, muslimah Indonesia di Southampton, juga menikmati waktu jelang Ramadhan untuk silaturahmi sesama orang Indonesia di Inggris. “Sedih juga suasana lockdown seperti sekarang ini. Biasanya kami sering berkumpul di satu tempat untuk berbagi makanan dan saling bertukar cerita, kangen-kangenan, nah sekarang ini tidak bisa mengundang banyak orang. Kami kemudian mengajak beberapa teman hanya enam orang untuk makan-makan di taman, di Riverside park yang tempatnya bagus,” jelas Annisa.

Bagi Annisa, momen berkumpul sesama orang Indonesia merupakan sesuatu yang berharga. “Iya, kami biasanya sibuk bekerja dari Senin hingga Jumat. Terkadang kalau akhir pekan juga ada tambahan kerja, over time. Nah, mumpung ini barengan dengan liburan Easter Break, jadi kami manfaatkan. Di Riverside park, bersama teman-teman, kami saling membawa makanan. Nah, meski sedikit orang, kami bisa menikmati, jadi happy,” kisah Annisa yang lahir di Palembang. Di antara sesama orang Indonesia di Inggris, Annisa dikenal jago membuat Pempek, kuliner khas tanah kelahirannya.

Idham Effendy punya cerita yang berbeda. Mahasiswa di The University of Sheffield itu merasakan aura pandemi yang sedih. Idham merupakan penyintas COVID-19 di Inggris, ia baru saja sembuh setelah beberapa pekan menjalani perawatan. “Alhamdulillah sekarang sudah sembuh, sudah segar kembali. Pandemi jadi pelajaran berharga bagi saya dan keluarga. Tinggal jauh di negeri orang, terkena COVID-19, tapi untungnya banyak teman yang membantu, seperti keluarga” terangnya.

“Ramadan di tengah lockdown juga merupakan hal yang sulit, masjid-masjid dan tempat ibadah masih belum terbuka sepenuhnya. Banyak aktifitas komunitas muslim di Sheffield yang tertunda, tidak seperti Ramadhan seperti biasanya,” jelas Idham.

Walau pandemi masih berlangsung, bagi orang-orang Indonesia di Inggris, Ramadhan tetap merupakan momentum untuk saling mendoakan, saling memaafkan. Mereka merawat tradisi-tradisi jelang Ramadhan semisal ‘munggahan’ untuk berbagi rasa dan menguatkan persaudaraan sesama diaspora di Inggris Raya.

Baca juga: BMKG Medan pantau hilal di Pantai Binasi Tapanuli Tengah

Baca juga: Rossa ingin rutin tadarus selama Ramadhan

Pewarta : Munawir Aziz
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar