Malaysia serukan pembebasan pemimpin politik Myanmar

id Malaysia,Myanmar

Menteri Luar Negeri Malaysia, Dato ’Seri Hishammuddin Tun Hussein saat rapat Kementrian Informal ASEAN dari Kuala Lumpur, Selasa. ANTARA/HO-KLN.

Kuala Lumpur (ANTARA) - Pemerintah Malaysia menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat para pemimpin politik yang ditahan di Myanmar termasuk Daw Aung San Suu Kyi, U Win Myint dan rekan-rekan mereka serta mendorong dialog antara pihak-pihak terkait.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Dato ’Seri Hishammuddin Tun Hussein mengemukakan hal itu dalam rapat Kementrian Informal ASEAN dari Kuala Lumpur, Selasa.

"Kami tetap yakin bahwa resolusi terhadap kebuntuan politik di Myanmar adalah proses yang dipimpin dalam negeri. Kami kuat dukungan untuk transisi demokrasi Myanmar, proses perdamaian dan pembangunan ekonomi inklusif tidak tergoyahkan. Namun, ini tidak bisa di mengorbankan kepentingan bersama semua orang di kawasan ASEAN," katanya.

Dia mengatakan tidak diragukan lagi bahwa Myanmar memiliki hak prerogatif atas politik dalam negerinya masalah namun pihaknya berharap Myanmar juga memperhatikan kekhawatiran tersebut diangkat oleh negara anggota ASEAN secara konstruktif.

"Sangat penting bagi Myanmar untuk mengupayakan solusi atas krisis politik dengan cara tertentu yang menjunjung tinggi kemauan dan aspirasi rakyat Myanmar," katanya.

Malaysia akan mendukung setiap upaya untuk mendamaikan perbedaan di antara Para pemimpin Myanmar untuk menghindari akibat yang merugikan bagi rakyat dan negara bagian Myanmar.

"Kami mendesak semua pihak terkait untuk terus menahan diri dari penggunaan kekerasan terhadap warga sipil yang tidak bersenjata. Kami sangat prihatin atas hilangnya nyawa dan cedera selama situasi yang sedang berlangsung di Myanmar," katanya.

Dia mengatakan Malaysia termasuk yang pertama menyadari potensi baiknya Myanmar menjadi bagian dari ASEAN pada 1997.

"Kami menganjurkan agar Myanmar dimasukkan ke dalam ASEAN yang bertentangan dengan kritik dan keberatan internasional. Oleh karena itu, merupakan kepentingan Malaysia dan ASEAN untuk melihat kemajuan Myanmar dalam transisi demokrasinya, mendorong dirinya untuk memenuhi potensinya menjadi salah satu raksasa ekonomi Asia Tenggara," katanya.

Jika situasi di Myanmar memburuk, ujar dia, ASEAN perlu mempertimbangkan bahwa situasi yang berulang di Myanmar ini merupakan kemunduran menuju perdamaian, stabilitas dan kemakmuran kawasan.

"Myanmar juga perlu terus bekerja sama dengan negara anggota ASEAN agar tidak menjadi garis patahan yang dapat menimbulkan kemungkinan ketidakstabilan di kawasan ini," katanya.

Pewarta : Agus Setiawan
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar