Dubes Jerman sebut tes COVID-19 kunci hadapi pandemi dan "new normal"

id virus corona di Jerman,Dubes Jerman untuk Indonesia,Peter Schoof,new normal,new normal di Jerman,COVID-19,COVID-19 di Jerman

Tangkapan layar Duta Besar Republik Federasi Jerman untuk Indonesia Peter Schoof (kanan atas) saat menyampaikan paparan pada sesi diskusi bertajuk "Hack the Crisis, Solutions for the New Normal" yang diadakan salah satunya oleh The Habibie Center bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Federasi Jerman Jakarta dan Kedutaan Besar Republik Indonesia Berlin, Selasa (2/6/2020). ANTARA/Genta Tenri Mawangi/pri.

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Republik Federasi Jerman untuk Indonesia Peter Schoof pada sesi diskusi virtual di Jakarta, Selasa, mengatakan banyaknya pemeriksaan COVID-19 membantu negara itu mengurangi dampak pandemi serta menjalani cara hidup baru, istilah yang saat ini dikenal dengan "new normal".

"Jerman mungkin tidak seperti negara Eropa lainnya yang terdampak parah, tetapi satu perangkat penting yang kami gunakan sejak awal, dan cukup berhasil, kami melakukan pemeriksaan yang masif, kami beruntung karena punya banyak alat untuk pemeriksaan, dan kami berhasil membuat alat pemeriksaan tambahan dengan sangat cepat," kata Schoof.

Pemerintah Jerman menggelar pemeriksaan COVID-19 lewat antibodi (rapid test) secara nasional sejak April. Setidaknya, 120.000 tes dilakukan per harinya di Jerman, negara dengan populasi sekitar 83 juta jiwa.

Data Robert Koch Institute menunjukkan per 27 Mei 2020, jumlah warga yang telah menjalani pemeriksaan COVID-19 mencapai kurang lebih 3,9 juta jiwa.

"Tes COVID-19 jadi perangkat esensial sampai vaksin dan obat COVID-19 ditemukan, khususnya saat kami mulai kembali membuka aktivitas masyarakat dan sektor usaha," terang Schoof.

Menurut dia, hasil pemeriksaan akan jadi data bagi para pembuat kebijakan untuk menentukan seberapa longgar pembatasan yang akan diberlakukan. Tidak hanya itu, data dari hasil tes COVID-19 juga jadi acuan bagi pemerintah untuk bertindak cepat jika kasus baru ditemukan.

"Kita masih belum punya banyak pengetahuan tentang virus ini, sehingga adanya tes memungkinkan kita mengetahui secara ilmiah apa yang sebenarnya terjadi di lapangan," ujar dia.

Jerman melaporkan kasus pertama penularan COVID-19 pada 27 Januari dan tidak lama setelahnya pemerintah langsung membentuk tim pengendali krisis. Semi-karantina sempat diberlakukan pada pertengahan Maret selama dua bulan. Namun sejak akhir Mei, otoritas beberapa negara bagian di Jerman mencabut sejumlah aturan pembatasan.

Walaupun demikian, Schoof mengatakan otoritas di Jerman tetap waspada dan akan kembali memberlakukan pembatasan jika menemukan kasus positif COVID-19 baru melebihi 50 orang untuk wilayah dengan populasi 400.000 jiwa.

Menurut data Worldometers, laman penyedia data statistik independen, total pasien positif COVID-19 di Jerman per Selasa (2/6) mencapai 183.775 jiwa. Dari angka itu, 8.618 di antaranya meninggal dunia, sementara 166.400 lainnya telah dinyatakan sembuh. Sejauh ini, sekitar 8.757 pasien masih menjalani perawatan dan ada 10 kasus baru yang ditemukan dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Jerman berencana buka seluruh toko, izinkan pertandingan sepakbola
Baca juga: Kasus corona di Jerman naik 2.458 jadi 139.897
Baca juga: Muslim Berlin shalat Jumat di gereja patuhi aturan jaga jarak

Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar