Kisah pelajar Indonesia yang memilih pulang di tengah pandemi COVID-19

id COVID-19,pelajar Indonesia,kembali pulang,pelajar rantau,Amerika Serikat,Inggris,Italia,pandemi

Ilustrasi - Pelajar asal Indonesia membaca buku saat melakukan karantina mandiri usai kembali dari Inggris Raya di mana dia menempuh pendidikan tinggi, akibat penyebaran virus COVID-19. (ANTARA/Aria Cindyara)

Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19, yang juga disebut sebagai virus corona, telah menyebar ke berbagai negara di seluruh belahan dunia dan membawa kekhawatiran, bahkan kepanikan, bagi masyarakat global. Kekhawatiran itu juga dirasakan oleh para pelajar asal Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di negeri orang.

Tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk tetap berada di negara tempat mereka studi di tengah pandemi yang menyebabkan sejumlah negara ‘memasang gembok’ dengan memberlakukan lockdown. Namun, sejumlah pelajar setingkat perguruan tinggi lainnya memilih untuk kembali ke Tanah Air selama masa pandemi global ini.

Pesepak Bola - Italia

Salah satu dari mereka adalah Jonathan Kim, pesepak bola asal Indonesia yang tengah menjalani pelatihan di akademi Paolo Rossi di Perugia, Italia dan tinggal di Assisi, sekitar 20 hingga 30 menit dari Perugia.

“Saya kembali ke Indonesia pada tanggal 13 Maret. Alasan utamanya adalah karena penyebaran virus corona yang meningkat begitu pesat sejak pertama kali saya mendengar tentang virus itu di Italia,” kata Kim pada ANTARA saat dihubungi melalui pesan singkat di Jakarta.

Pria berusia 19 tahun itu mengingat kembali masa-masa sebelum dirinya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. “Awalnya terdapat sekitar 15 kasus, kemudian meningkat cepat menjadi 50 hingga 60 kasus dalam satu pekan, dan dalam dua minggu jumlah kasus mencapai 150-200,” ujar dia.

Italia menjadi salah satu negara dengan penyebaran COVID-19 paling parah di dunia. Menurut laman worldometers.info, hingga 30 Maret 2020, infeksi virus corona telah merenggut nyawa 10.779 penduduk Italia. Kasus positif virus corona pun telah mencapai 97.689 kasus.

Tak lama sebelum Kim kembali ke Indonesia, pemerintah Italia pun memberlakukan lockdown dan meluaskan area zona merah ke seluruh teritori negara tersebut. Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte memutuskan untuk memberlakukan kebijakan yang mengatur penghentian dan penundaan kegiatan yang melibatkan orang banyak di ruang publik, termasuk kompetisi olahraga, penutupan museum dan perpustakaan, dan lain sebagainya.

“Asosiasi Sepak Bola Italia memutuskan untuk menunda Liga Sepak bola Italia untuk waktu yang belum ditentukan. Saya menerima e-mail dari kepala Akademi yang mengatakan sebaiknya para atlet kembali ke negara asal masing-masing,” jelas Kim.

Menjelang kepulangannya, Kim menjalani hari-hari di masa karantina yang diberlakukan berdasar hukum oleh pemerintah setempat. “Perugia dan Assisi menjadi kota hantu. Untuk keluar dari tempat tinggal, saya harus mendapatkan semacam surat atau form dari otoritas terkait dan memberi alasan mengapa saya keluar dari asrama,” lanjutnya.

Pelajar seni - Inggris

Keadaan yang tidak menentu juga menjadi alasan mahasiswi Indonesia, Ratna Jelita, untuk kembali ke Tanah Air pada 24 Maret lalu dari Inggris Raya. Perempuan yang tengah menuntut ilmu bidang seni dan desain di Bellerbys College, London, itu terdorong untuk kembali ke Indonesia karena tingginya jumlah kasus yang tercatat di Inggris.

“Saya tinggal sendiri di asrama. Berada di situasi yang tidak pasti di negara asing, di mana saya jauh dari keluarga, membuat saya khawatir, apalagi saya harus menggunakan tranportasi umum saat bepergian, termasuk untuk membeli makanan atau pergi ke apotek,” jelasnya.

Hingga Minggu, 29 Maret pada pukul 9 pagi waktu setempat, jumlah kasus positif COVID-19 di Inggris Raya mencapai 19,522 orang, sebagaimana tercantum di laman resmi pemerintah, www.gov.uk.

Terhitung pukul 5 sore pada 28 Maret 2020, sebanyak 1.228 orang meninggal dunia. Pemerintah Inggris telah memberlakukan lockdowndi seluruh wilayah negara tersebut dalam upaya menghentikan penyebaran virus yang pertama muncul di kota Wuhan, China itu.

Saat ditanya apakah dirinya merasa lebih aman berada di Indonesia, Jelita mengatakan di satu sisi dia merasa lebih tenang karena berada dekat dengan keluarga. “Di lingkungan yang saya kenal, dengan orang-orang yang saya kenal, membuat keadaan terasa lebih normal, meski tetap harus mengarantina diri setelah kembali dari Inggris. Tetapi setidaknya saya tidak menjalani ini sendiri dan saya rasa ini lebih baik untuk mental saya,” papar dia.

Menjaga kesehatan mental seringkali disebut sebagai salah satu aspek penting dalam mencegah penyebaran COVID-19, karena berpengaruh terhadap tingkat sistem imun seseorang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengeluarkan sejumlah imbauan terkait kesehatan mental dalam masa pandemi corona.

Mahasiswi psikologi - Amerika Serikat

Sementara itu, mahasiswi Indonesia yang menempuh studi di Los Angeles, Amerika Serikat, Giorgina Sekarputri menyebut keluarga yang berada di Indonesia merasa khawatir terkait keselamatannya di negara Paman Sam.

Kekhawatiran keluarga Giorgina tak hanya terkait soal penyebaran virus itu sendiri. “Orang tua saya meminta saya untuk kembali ke Indonesia karena situasi yang terjadi di Amerika Serikat, terutama karena adanya rasisme terkait orang Asia dan Ibu saya mengkhawatirkan keselamatan saya,” ujarnya.

Mahasiswi jurusan psikologi di Pepperdine University itu tiba di Jakarta pada 17 Maret lalu.

Kemunculan rasisme dan xenophobia dilaporkan mengiringi peningkatan angka kasus COVID-19 di berbagai negara.

Kantor Berita Reuters memberitakan pada bulan Februari lalu bahwa otoritas Los Angeles sempat mengeluarkan pernyataan terkait sejumlah rumor, berita palsu, dan penyerangan dalam upaya untuk menghilangkan kefanatikan anti-Asia yang mulai muncul di negara bagian California pada awal merebaknya virus corona di AS.

“Kami tidak akan membiarkan kebencian,” kata Supervisor County Los Angeles Hilda Solis yang mengimbau warga setempat untuk melaporkan kejahatan ke nomor khusus 211.

Virus corona yang tengah mewabah di seluruh dunia itu mencemaskan setiap orang di mana pun, termasuk di Tanah Air. Di saat krisis seperti sekarang ini, salah satu pilihan  terbaik bagi sebagian  orang  adalah tinggal  di dekat orang-orang tercinta.

Itulah sebabnya pilihan Jonathan Kim, Ratna Jelita dan Giorgina Sekarputri untuk kembali ke Tanah Air, berada di dekat keluarga saat wabah mengancam adalah keputusan eksistensial.

Baca juga: Orang tua mahasiswa dari Wuhan tunggu kedatangan anaknya di Juanda
Baca juga: Isolasi di Wuhan hambat kepulangan tiga mahasiswa asal Lamongan


Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar