Metro Hong Kong mulai beroperasi tapi masih ada protes lanjutan

id Metro Hong Kong,Protes Hong Kong

Seorang perempuan mengarahkan orang-orang di stasiun kereta Yau Ma Tei di Hong Kong, China, Rabu (9/10/2019) setelah stasiun di dekatnya, Mong Kok, ditutup karena vandalisme selama protes. (ANTARA/REUTERS/Susana Vera/tm)

Hong Kong (ANTARA) - Operator metro Hong Kong mulai membuka semua stasiun pada Jumat untuk pertama kalinya dalam seminggu, meski masih akan ada protes lanjutan pada akhir pekan ini.

Sementara itu, badan legislatif kota memulai bersidang untuk sesi pertama sejak para pengunjuk rasa menyerbu kantor mereka pada Juli lalu.

Para anggota parlemen yang prokemapanan dan pendukung demokrasi saling berteriak sebelum sidang dimulai. Keadaan itu semakin meninggikan ketegangan setelah protes prodemokrasi berlangsung empat bulan di kota pusat keuangan Asia tersebut dan sering disertai kekerasan.

Beberapa anggota parlemen mengenakan topeng hitam ketika mereka duduk di ruang sidang, sementara yang lainnya membawa plakat bertuliskan: "Kebrutalan polisi masih ada, bagaimana kita bisa bersidang?"

Pemakaian penutup wajah dilarang di bawah kekuasaan darurat era kolonial yang diterapkan oleh pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, seminggu yang lalu.

Baca juga: Ribuan pengunjuk rasa abaikan hukum anti-penutup wajah di Hong Kong
 
Seorang pengunjuk rasa antipemerintah mengenakan penutup wajah sambil memainkan biola selama demonstrasi di daerah pendudukTseung Kwan O di Kowloon, Hong Kong, China, Senin (7/10/2019). (ANTARA/REUTERS/Athit Perawongmetha/tm)  


Aksi protes telah menjerumuskan kota ke dalam krisis terburuk sejak Hong Kong diserahkan oleh Inggris ke pemerintahan China pada 1997 serta menimbulkan tantangan terbesar bagi Presiden China Xi Jinping sejak ia berkuasa pada 2012.

Protes dipicu oleh RUU ekstradisi yang kemudian ditarik, tetapi sejak itu berkembang menjadi gerakan prodemokrasi yang disebabkan oleh kekhawatiran bahwa China melanggar kebebasan Hong Kong yang dijamin dengan formula "satu negara, dua sistem". Formula itu diberlakukan sejak penyerahan Hong Kong pada 1997.

China menyangkal klaim tersebut dan menyalahkan negara-negara asing, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, yang dianggapnya mengobarkan kerusuhan.

Operator metro MTR Corp, yang jaringannya mampu mengangkut sekitar 5 juta penumpang per hari, mengatakan semua saluran akan ditutup pada pukul 10 malam (21.00 WIB) pada Jumat, dua jam lebih awal dari biasanya sehingga lebih banyak perbaikan dapat dilakukan setelah pengunjuk rasa membakar atau menghancurkan stasiun di seluruh kota.

Para pengunjuk rasa telah menargetkan MTR karena telah dipersalahkan menutup stasiun atas nama pemerintah untuk mengekang aksi demonstrasi.

Sistem, yang biasanya efisien, ditutup sepenuhnya pada Jumat lalu setelah serangan pembakaran dan hanya beroperasi sebagian sejak saat itu.

Baca juga: Sebagian layanan transportasi di Hong Kong dijalankan pascabentrokan

Baca juga: Jaringan kereta Hong Kong ditutup setelah unjuk rasa malam hari


Lam menerapkan undang-undang darurat, termasuk larangan penutup wajah, Jumat lalu dalam upaya untuk memadamkan kerusuhan. Namun, langkah itu memicu beberapa kekerasan terburuk sejak protes dimulai.

Pemerintah mengatakan tidak akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk melawan protes kekerasan dan menolak desas-desus bahwa pasukan keamanan China daratan terlibat.

Gedun-gedung pusat perbelanjaan dan beberapa fasilitas umum tutup Kamis pagi untuk menghindari sasaran protes yang direncanakan.

Beberapa demonstrasi direncanakan berlangsung di berbagai distrik di seluruh bekas jajahan Inggris pada Jumat dan sepanjang akhir peka dalam rangka memprotes berbagai isu, termasuk kebrutalan polisi.

Sumber: Reuters

Baca juga: Pemimpin Hong Kong: Kami tak berencana gunakan kekuatan darurat

Baca juga: AJI kecam penembakan polisi Hong Kong terhadap jurnalis asal Indonesia

Baca juga: NBA: 'Kami tidak minta maaf ' terkait cuitan soal Hong Kong


 

Presiden Ingatkan WNI di Hong Kong Amalkan Pancasila


Pewarta : Atman Ahdiat
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar