British Airways berencana bebas emisi karbon pada 2050

id British Airways,bebas emisi karbon

IAG RESULTS - Pesawat-pesawat British Airways terlihat di Bandara Heathrow di London barat, Inggris, 23/2/2018. (ANTARA/REUTERS/Hannah McKay/File Photo/tm

London (ANTARA) - IAG sebagai pemilik British Airways berencana merancang seluruh pesawatnya agar bebas gas buangan karbon pada 2050 sehingga akan merupakan yang pertama membuat komitmen menjadi maskapai penerbangan tanpa emisi.

Industri penerbangan sempat mendapat tekanan dari para pegiat lingkungan, salah satunya Extinction Rebellion, yang ingin melumpuhkan aktivitas bandara di Kota London, Kamis.

Baca juga: Polisi tangkap 300 pengunjuk rasa perubahan iklim di London
Polisi memindahkan seorang aktivis iklim yang sebelumnya menjebak dirinya sendiri ke jalan saat protes 'Extinction Rebellion'(pemberontakan kepunahan) di London, Inggris, Rabu (9/10/2019). (REUTERS/TOBY MELVILLE)

IAG, perusahaan multinasional asal Spanyol yang berbasis di Inggris, mengatakan target bebas karbon akan dicapai melalui sejumlah kebijakan, di antaranya "carbon offsetting" atau mengalihkan buangan gas rumah kaca dari penerbangan domestiknya ke sejumlah kegiatan konservasi mulai 2020.

Kebijakan lain yang akan ditempuh IAG,  antara lain, berinvestasi mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan serta mengganti pesawat lama dengan jenis baru yang lebih hemat bahan bakar dalam waktu lima tahun mendatang.

"Kami akan berinvestasi membeli pesawat baru serta mengembangkan teknologi inovatif yang dapat mengurangi jejak karbon di industri penerbangan. Sebagaimana kita tahu, saat ini belum ada bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan avtur (jet fuel)," kata Direktur Eksekutif IAG Willie Walsh dalam pernyataan tertulisnya.

IAG mengatakan langkah-langkah tersebut diharapkan dapat berkontribusi pada rencana Inggris untuk bebas emisi karbon, khususnya pada sektor ekonominya. Tidak hanya itu, IAG juga berharap langkahnya itu sejalan dengan misi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ingin menekan suhu bumi agar tetap berada di tataran 1,5 derajat Celsius.
 
Aktivis Ukraina berpartisipasi dalam sebuah pawai menuntut aksi atas perubahan iklim. Mereka bergabung dengan protes serupa  secara global, tiga hari menjelang konferensi tingkat tinggi darurat PBB, di Kiev, Ukraina, Jumat (20/9/2019).REUTERS/Gleb Garanich/pd/cfo  

Baca juga: MRT Jakarta berencana pakai energi baru terbarukan, kurangi emisi

Walaupun demikian, misi British Airways menekan emisi karbonnya akan sulit dilakukan apabila maskapai itu masih menjual paket penerbangan jangka pendek dan tiket murah, kata sejumlah pegiat. Langkah pengurangan emisi itu pun dinilai akan kurang berdampak langsung pada tujuan pengendalian perubahan iklim.

Namun bagi Walsh, industri penerbangan berkontribusi terhadap dua persen dari jumlah karbon yang dihasilkan dalam aktivitas perekonomian dunia. Oleh karena itu, misi British Airways mengurangi gas buang karbonnya merupakan salah satu cara yang cukup optimal untuk menjadikan industri penerbangan tak banyak menyebabkan polusi.

Baca juga: Puluhan ribu pelajar Selandia Baru gelar aksi protes perubahan iklim

"Peran pemerintah cukup penting untuk mendukung perusahaan yang ingin mengurangi emisi karbonnya, misalnya dengan memberi insentif guna mempercepat investasi di bidang pengembangan teknologi baru. Dukungan pemerintah itu penting demi mengatasi ketergantungan industri penerbangan terhadap bahan bakar minyak," jelas Walsh.

Menurut dia, pemanasan global perlu diatasi dengan solusi yang menyeluruh, dan seluruh inisiatif terkait pengurangan emisi karbon dapat membantu upaya menekan suhu bumi agar tetap pada kisaran 1,5 derajat Celsius.

Sumber: Reuters

Kurangi emisi rumah kaca dengan bertransportasi publik


Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar