Orkestra Tradisional ASEAN-Korsel akan digelar di Jakarta, Bali

id orkestra tradisional ASEAN-Korea,ASEAN-Korea,ASEAN,SOMCA,SOMCA Yogyakarta

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid ditemui usai Pertemuan ke-15 Pejabat Tinggi ASEAN untuk Urusan Kebudayaan dan Kesenian (the 15th ASEAN Senior Officials Meeting for Culture and Arts/SOMCA and Related Meetings) di Yogyakarta, Rabu (11/9/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) -

Orkestra Tradisional ASEAN-Korea Selatan akan diselenggarakan di Jakarta dan Bali, November mendatang.

Inisiatif penyelenggaraan orkestra ini telah dibahas dalam Pertemuan ke-15 Pejabat Tinggi ASEAN untuk Urusan Kebudayaan dan Kesenian (the 15th ASEAN Senior Officials Meeting for Culture and Arts/SOMCA and Related Meetings) di Yogyakarta.

Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, rencana penyelenggaraan Orkestra Tradisional ASEAN-Korea Selatan berkaitan erat dengan narasi identitas ASEAN yang diusulkan Indonesia---yang didasarkan pada kemiripan dalam bahasa musik.

“Paling tidak kesesuaian. Jadi orkestra tradisional ini akan membawa musisi dengan alat musik dari daerah kita masing-masing untuk main bersama,” kata Hilmar usai pertemuan ASEAN-Korea SOMCA di Yogyakarta, Rabu (11/9).

Tampil di Jakarta (3-7 November 2019) dan Bali (8-13 November 2019), para musisi akan membawakan total 11 repertoar yang mewakili 10 negara anggota ASEAN dan Korea Selatan.

“Jadi mereka akan memainkan lagu-lagu itu dengan instrumen yang berbeda-beda sebagai orkestra,” kata Hilmar.

Khusus dari Indonesia, alat musik tradisional yang akan dimainkan dalam orkestra ini yakni gambang dan kendang.

Orkestra Tradisional ASEAN-Korea Selatan adalah forum ekspresi bagi seniman seni pertunjukan, terutama musisi, penyanyi, dan penari tradisional untuk tampil dalam pertunjukan kolaborasi.

Orkestra ini akan menampilkan musisi tradisional Indonesia yang bekerjasama dengan musisi ASEAN dan Korea Selatan yang merupakan anggota Orkestra Tradisional Asia (ATO) di bawah Pusat Budaya Asia, Gwangju, Korea Selatan.

ATO sendiri dibentuk dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan ASEAN-Republik Korea pada Mei 2009 di Pulau Jeju, Republik Korea Selatan sebagai forum persahabatan para musisi ASEAN dan Korea.

Komite ATO bertujuan untuk mempromosikan pertukaran budaya antara musisi tradisional dan seni di Asia serta ntuk mengimplementasikan dan mendukung berbagai proyek dengan tujuan melestarikan dan mengembangkan musik tradisional di Asia.
Baca juga: Prisia Nasution ingin ikut kenalkan musik tradisional

Baca juga: Korea Selatan akan Tingkatkan Hubungan dengan ASEAN
Baca juga: Indonesia ajak ASEAN memasyarakatkan nilai-nilai bersama
Baca juga: Kolaborasi musisi Korea-Indonesia meriahkan "mosaikorea" di Surabaya


Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar