Selandia Baru minta Australia jawab kebutuhan perubahan iklim Pasifik

id Jacinda Arden,Tuvalu,Perubahan Iklim,Pernyataan PIF,Forum Kepulauan Pasifik

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern berbicara di Istana di SIngapura, Jumat (17/5/2019). REUTERS/Feline Lim/djo/nz (REUTERS/FELINE LIM)

Funafuti, Tuvalu (ANTARA) - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menantang Australia pada Rabu untuk menjawab kebutuhan Pasifik Selatan agar ada aksi lebih banyak untuk perubahan iklim, dengan mengatakan bahwa negaranya (Selandia Baru) melakukan bagiannya untuk pembatasan global gas buang rumah kaca.

Pertemuan para pemimpin pulau Pasifik di Tuvalu minggu ini telah menyeru Australia untuk mengambil tindakan lebih keras terhadap perubahan iklim, dengan mengutip ketergantungannya yang besar pada tenaga batu bara.

"Australia harus menjawab ke Pasifik tetapi itu persoalan mereka," kata Ardern di Tuvalu. "Kami telah mengatakan bahwa kami tidak percaya kami dapat mempertahankan lebih dari 1,5 derajat (Celsius) pemanasan ... di situlah kami memihak."

"Seperti tetangga kita pulau-pulau Pasifik kita, kita akan melanjutkan panggilan internasional itu, kita akan terus mengatakan bahwa Selandia Baru akan melakukan bagiannya dan kita memiliki harapan bahwa semua orang juga akan sama, kita harus melakukannya."

Pulau-pulau Pasifik yang berada di dataran rendah berada di garis depan perubahan iklim global, berjuang menghadapi kenaikan permukaan laut dan krisis terkait yang telah memaksa beberapa penduduk untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison tiba di Tuvalu pada hari Rabu ketika para pejabat di Forum Kepulauan Pasifik (PIF) mulai menegosiasikan sebuah pernyataan resmi yang menurut banyak pemimpin harus mencakup pembatasan kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius (2,7 derajat Fahrenheit) di atas tingkat pra-industri dan segera mengakhiri penambangan batubara.

Namun, Australia tidak akan menyetujui pernyataan tersebut yang menuntut tujuan iklim yang lebih keras, kata Menteri Australia untuk Pasifik, Alex Hawke.

"Posisi Australia pada batu bara adalah kita tidak akan membuat pernyataan di mana batu bara dan pembangkit tenaga batu bara, atau menghapusnya sekarang, adalah persoalan yang nyata," kata Hawke.

Morrison adalah pendukung kuat industri batubara negaranya. Pada bulan Juni, Australia menyetujui sebuah tambang batubara besar baru di negara bagian Queensland oleh Adani Enterprises dari India yang diperkirakan akan menghasilkan 8-10 juta ton batubara termal setiap tahun.

Pada tahun 2016 Australia menandatangani Perjanjian Paris yang mengikatkan diri pada kebijakan yang membatasi kenaikan suhu tidak lebih dari 2 derajat Celcius. Morrison mengatakan Australia akan memenuhi komitmen perubahan iklimnya.

Sebelum menuju ke Tuvalu, Morrison mengumumkan bahwa Australia akan memberikan 500 juta dolar Australia ( 339 juta dolar AS) kepada negara-negara kepulauan Pasifik untuk proyek-proyek energi terbarukan dan membantu mereka mempersiapkan diri untuk dampak perubahan iklim.

Namun, para pemimpin pulau menolak dengan keras tawaran Morrison dengan mengatakan pemberian uang tunai kepada negara-negara yang memerangi perubahan iklim tidaklah cukup.

Pantang mengalah tentang persoalan di PIF, Australia sekarang mencari sekutu untuk mencegah kesepakatan di antara 17 anggota lain Forum, dan Morrison mengakui ketegangan di antara kelompok tersebut.

Ketika ditanya tentang masalah di Tuvalu, dia berkata: "Kami akan menunjukkan untuk percakapan yang sulit, percakapan yang baik dan percakapan keluarga".

Ardern mengatakan dia berharap pernyataan akhir akan menjadi konsensus dari semua 18 anggota. "Akan lebih kuat jika ini dikeluarkan secara keseluruhan," katanya kepada wartawan.

Sumber: Reuters

Baca juga: Perjalanan mobil listrik dari Belanda berakhir di Selandia Baru

Baca juga: Pacific Exposition 2019 resmi dibuka dengan pukulan tifa

Pewarta : Maria D Andriana
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar