Warga Harapkan Pohon Tembaga Jadi Destinasi Wisata

Pewarta : id pohon tembaga

Suprapto memperhatikan pohon tembaga yang telah berusia ratusan tahun dan tumbuh berdampingan dengan pohon nagasari di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Kamis (7/9/2017). (Foto: ANTARAJATENG.COM/Sumarwoto)

Banyumas,ANTARA JATENG - Sejumlah warga Desa Pekunden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengharapkan keberadaan pohon tembaga di kompleks Makam Tembaga dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata sejarah.

"Pohon itu disebut masyarakat dengan nama tembaga karena warna kayunya kuning seperti tembaga. Usianya sangat tua, mungkin ratusan tahun, dan hanya satu-satunya," kata Suprapto (78), warga Banyumas, di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Kamis.

Suprapto mengaku saat masih anak-anak, pohon tembaga itu telah tumbuh besar. Namun, sampai sekarang, tinggi maupun ukurannya tidak berubah.

Saat itu, dia tidak merasa aneh terhadap keberadaan pohon tembaga tersebut.

Akan tetapi, dalam beberapa waktu terakhir, Suprapto mulai memikirkan keberadaan pohon tembaga tersebut dan berharap dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Banyumas.

"Pohon ini sangat menarik dan mungkin hanya satu-satunya. Mungkin kalau dijadikan destinasi wisata, akan banyak yang datang," katanya.

Warga lainnya, Sugito (79), mengatakan bahwa keberadaan pohon tembaga di Desa Pekunden tercatat dalam kisah Babad Banyumas.

Saat itu, kata dia, Adipati Wirasaba Raden Joko Kahiman (bupati pertama Banyumas, red.) yang bergelar Adipati Warga Utama II mendapat wangsit supaya membuka tempat baru yang berada di barat laut Desa Kejawar yang ada pohon tembaga jika ingin lestari dalam menjalankan tugas sebagai adipati.

"Kalau dalam bahasa Jawa yen sira pengin lestari nggonira jumeneng adipati, trukaha papan anyar kang dhumunge lor kulone Desa Kejawar kang ana wite tembaga," katanya.

Singkat cerita, kata Sugito, Raden Joko Kahiman sekitar 1571 pindah ke daerah yang disebutkan dalam wangsit. Saat itu kondisinya berupa rawa-rawa serta hutan.

Dari sekian banyak pepohonan yang tumbuh, lanjut Sugito, ditemukanlah pohon tembaga sehingga pohon-pohon lainnya ditebang dan rawa-rawanya dikeringkan.

"Selanjutnya, daerah itu dibangun dan sekarang dikenal dengan nama Banyumas. Sementara pohon tembaga itu sampai sekarang masih tumbuh," kata Sugito yang merupakan pensiunan guru Sekolah Menegah Pertama Negeri 1 Patikraja, Banyumas.

Oleh karena itu, keberadaan pohon tembaga diharapkan bisa menjadi salah satu destinasi wisata yang dirangkaikan dengan wisata Kota Lama Banyumas.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa tim peneliti dari Yogyakarta pernah melakukan penelitian terhadap pohon tembaga dan menyimpulkan bahwa pohon tersebut sulit untuk dikembangkan karena tidak memiliki bunga maupun tunas.

Bahkan, dari hasil penelitian, lanjut dia, sel-sel kulit pohon tersebut tidak ada kesamaan dengan pohon-pohon lainnya.

"Peneliti juga pernah mencoba untuk mengembangkan pohon tersebut melalui kultur jaringan namun gagal, kemudian Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyumas saat itu segera memasang papan peringatan bahwa pohon tersebut merupakan tanaman langka dan bersejarah yang dilindungi. Namun, papan tersebut sudah tidak ada," katanya.

Saat dihubungi dari Banyumas, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah Seksi Konservasi Wilayah II Cilacap-Pemalang Dedi Rusyandi mengatakan bahwa pihaknya pernah mengecek keberadaan pohon tembaga tersebut.

Berdasarkan hasil pengecekan, dia menduga pohon tembaga tersebut masih satu keluarga dengan pohon pucuk merah karena ada kemiripan.

Menurut dia, pohon tembaga tersebut sebenarnya bisa dikembangkan jika ada kemauan.

"Kami berencana ke sana lagi untuk memastikan apa yang bisa dilakukan jika pohon itu akan dikembangkan di tempat lain," katanya.
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar