TWC Ajak Warga Borobudur Berbisnis Homestay

Pewarta : id TWC, Warga Borobudur, Bisnis Homestay

Homestay Balkondes binaan PT TWC di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. (Foto: ANTARA/Anis Efizuddin)

Magelang, ANTARA JATENG - Sejumlah bangunan bernama balai ekonomi desa (balkondes) telah berdiri megah di sejumlah desa di kawasan Borobudur yang dibangun oleh badan usaha milik negara (BUMN) 

Di antara balkondes yang sudah berdiri tersebut terdapat beberapa unit homestay di dalamnya sebagai penginapan para wisatawan yang ingin bermalam di desa sekitar Candi Borobudur. Bangunan homestay di balkondes tersebut ada tiga jenis, yakni single unit, kopel, dan family.  

Direktur Utama Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Edy Setijono mengatakan dengan adanya beberapa jenis bangunan homestay tersebut pihaknya ingin mengajak masyarakat berbisnis homestay.

"Dalam hal ini, kami bukan mau berbisnis homestay, tetapi mengajak masyarakat atau memberi contoh masyarakat kalau ingin membuat homestay bisa memilih modelnya eperti ini," katanya.

Ia menuturkan bangunan homestay dibuat sedemikian rupa supaya bisa direplika oleh masyarakat.           

Ia mengatakan dibangunnya tiga jenis homestay tersebut dengan tujuan bagi masyarakat yang hanya memiliki tanah seluas 100 meter persegi bisa membuat yang single saja, kalau punya tanah lebih luas bisa membuat yang kopel.

Jika memang memiliki tanah lebih luas lagi bisa membuat homestay seperti di Balkondes Borobudur di Dusun Ngaran itu, semua jenis bangunan homestay ada, baik single, kopel, maupun family.

Ia menyampaikan hal ini sebagai salah satu upaya untuk memberdayakan masyarakat di kawasan Borobudur agar kesejahteraannya meningkat.

Menurut dia jika ada yang membutuhkan bantuan modal usaha, bisa meminjam dari BUMN yang bunganya sangat rendah.

"Bagi masyarakat yang bisa mengelola sendiri homestaynya silakan, tetapi kalau tidak bisa ikut ke network kami supaya bisa dipasarkan secara online," katanya.

Edy mengingatkan bahwa balkondes tidak bisa jalan sendiri, oleh karena itu harus dalam network agar lebih kuat.

"Sekarang sudah banyak balkondes berdiri dan sebagian sudah mulai beraktivasi, tetapi jika kemudian ingin menjadi sendiri menurut kami salah, karena akan sangat mudah dipatahkan," katanya.

Menurut dia yang membuat balkondes kuat itu bukan satu per satu, tetapi tetapi karena kebersamaan di antara balkondes.

Ia mencontohkan balkondes di Ngaran yang menjadi binaan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratuboko itu sudah berjalan bagus, bisa menghasilkan dan sudah ada bagi hasil dengan desa.

"Apa jadinya kalau Ngaran itu lepas dari network, di kanan kiri balkondes di Ngaran itu ada tanah kosong, bisa tidak kebayang kemudian tahu-tahu ada investor masuk ke situ membeli tanah sebelahnya dan membuat yang lebih bagus dari Ngaran, saya kira balkondes di Ngaran akan tutup dalam waktu tidak lama," katanya.

Oleh karena itu, katanya kalau ada balkondes lain ada yang merasa bahwa bisa sendiri maka gampang untuk mematahkannya, bagi investor SDMnya pasti lebih bagus, permodalannya juga lebih bagus karena kepentingannya langsung bisnis.

"Kalau bisnis berapa pun akan ditempuh. Jadi hal ini harus dipahami, kita ini mau membangun semua, bukan satu per satu. Kalau satu per satu yang punya akses, yang punya modal pasti akan lebih bagus, tetapi desa lain akan tertinggal," katanya.

Ia menuturkan mengapa di Desa Kenalan dan Bidaran yang begitu jauh dari harus dibangun balkondes, karena kalau tidak ada program seperti itu bakal lama perkembangannya.

"Kebersamaan ini harus dibangun, jadi kalau sekarang ada yang lebih cepat duluan tidak apa-apa, tetapi fokus kita harus semua. Dengan kebersamaan ini, orang mau bikin di sebelahnya Ngaran itu berpikir, karena harus melawan 20 balkondes, bukan lawan satu baklondes," katanya. (ksm)

Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar