Terdampak Proyek Tol, Ratusan Siswa Batang Tuntut Pencairan Ganti Rugi

Pewarta : id siswa tuntut ganti rugi

Ratusan siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah Darussalam Juragan, Kecamatan Kandenan, Kabupaten Batang tuntut PT Waskita mempercepat ganti rugi tanah dan bangunan, Rabu (13/9). (Foto: ANTARAJATENG.COM/Kutnadi)

Batang, ANTARA JATENG - Sekitar 200 siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah Darussalam Juragan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menuntut PT Waskita selaku pengembang proyek jalan Tol Batang-Semarang untuk secepatnya mencairkan ganti rugi bangunan gedung sekolah mereka.

Tuntutan itu mereka sampaikan dalam unjuk rasa di Batang, Rabu.

Para siswa menilai selama ini mereka terganggu dalam kegiatan proses belajar mengajar karena lokasi sekolah berada di tengah-tengah proyek jalan Tol Batang-Semarang yang selalu dibisingkan dengan suara alat berat dan truk pengangkut tanah.

Lembaga Pendidikan Maarif NU Madrasah Ibtidaiyah Darussalam menuntut PT Waskita memberikan kompensasi kesehatan dari dampak proyek, percepatan ganti rugi tanah dan bangunan sekolah madrasyah, dan pengerjakan proyek di luar jam aktif kegiatan belajar mengajar(KBM).

Selain berorasi, ratusan siswa dan guru membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan seperti "Kami Butuh Bebas Dari Debu" dan "Kami Butuh Bebas Dari Polusi Udara".

Koordinator Aksi Rohmutadi mengatakan selama enam bulan terakhir ini, kegiatan belajar mengajar siswa terganggu karena suara bising alat berat dan truk pengangkut tanah yang melintas di depan sekolah.

"Saat ini, banyak siswa maupun guru yang terserang penyakit saluran pernafasan karena banyak debu yang berterbangan. Selain itu, siswa juga tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran karena adanya suara bising alat berat," katanya.

Ia yang didampingi Kepala Sekolah Madrasyah Ibtidaiyah Darussalam, Musyaropah mengatakan lembaga sekolah pernah menghadap PT Waskita dan telah menyepakati tuntutan pihak sekolah yaitu melakukan penyiraman jalan sebanyak empat kali sehari.

"Akan tetapi, pihak PT Waskita tidak melakukan penyiraman jalan sesuai kesepakatan padahal jalan tol dikerjakan sampai malam hari," katanya.

Ia menambahkan tanggung jawab PT Waskita terhadap warga terdampak selalu terabaikan, bahkan saat pihak sekolah meminta bantuan masker (alat penutup hidung) juga tidak ada realisasinya.
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar