Tari Larung Sesaji Warnai Penutupan SIPA 2017

Pewarta : id tari larung,sesaji warnai penutupan sipa 2017

Tari Larung Sesaji di penutupan SIPA 2017 (Foto: ANTARAJATENG.COM/Aris Wasita Widiastuti)

Solo, ANTARA JATENG - Tari Larung Sesaji mewarnai penutupan festival "Solo International Performing Arts" (SIPA) 2017 yang diadakan di Benteng Vastenburg Solo, Jawa Tengah, Sabtu (9/9) malam.

Pantauan di lapangan, tari Larung Sesaji yang dibawakan oleh delapan penari wanita dari Sanggar Seni Tiara Selatan, Bangka Selatan ini mampu membius ratusan penonton yang memadati acara tersebut.

Pada tarian itu, tampak sesaji yang dipanggul oleh empat penari. Larung sesaji sendiri merupakan tradisi Suku Sekak, Desa Kumbung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Larung sesaji adalah ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil laut yang telah diperoleh serta keselamatan ketika berlayar di laut.

Salah satu penonton yang berasal dari Sragen, Widi Lestari, mengatakan baru kali ini dirinya menyaksikan festival SIPA secara langsung.

"Ternyata bagus sekali, banyak tarian dari beberapa daerah di Indonesia yang baru kali ini saya lihat," katanya.

Meski demikian, dia yang juga menyaksikan malam pembukaan SIPA 2017 pada Kamis (7/9) mengatakan yang paling berkesan adalah penampilan dari maskot SIPA 2017, Eko Supriyanto, pada saat pembukaan.

"Mulai dari musik yang mengiringi sampai para penarinya semua bagus dan mengena di hati. Eko juga tampil sangat baik," katanya.

Sebelumnya, Eko Supriyanto mengatakan dari tahun ke tahun festival SIPA selalu lebih baik. Menurut dia, makin tahun pemilihan para penampil juga bertambah baik.

"Yang penting selalu membuka diri untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pelaku seni, bukan hanya dari Solo tetapi juga dari luar daerah bahkan luar negeri," katanya.

Sementara itu, selain tari Larung Sejati, berturut-turut tari yang ditampilkan pada penutupan SIPA 2017 tersebut, di antaranya tari Lanna dari Thailand, tari Frequency dari Malaysia, dan teater tari Sinugdan dari Filipina.

Sebagai penutup, Sanggar Seni Jinggo Boyo dari Banyuwangi menampilkan tarian atraktif berjudul Gandrung Slerek Blambangan yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat Banyuwangi yang tidak lepas dari kekayaan laut, mulai dari wisata laut hingga hasil laut.

Tidak hanya dimeriahkan oleh belasan penari, tetapi penampilan sanggar ini juga diramaikan oleh penampilan para pemusik yang secara bergantian memainkan alat musik sekaligus bernyanyi mengiringi para penari.
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar