PUPR Gandeng Jepang Benahi Waduk di Indonesia

id purp, gandeng jepang, bendungan

PUPR Gandeng Jepang Benahi Waduk di Indonesia

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (kiri) menerima cinderamata dari Director of International Cooperation and Engineering for Infrastructure of MLIT Pemerintah Jepang Mr Yusuke Amano, didampingi Wakil Rektor III Undip Budi Setiyono (kanan), di sela Seminar Tentang Jembatan dan Bendungan (DAM Upgrade and Bridge Seminar) di Semarang, Rabu (13/12) (Foto: ANTARAJATEN

Semarang, ANTARA JATENG - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerja sama dengan Pemerintah Jepang untuk membenahi pengelolaan waduk-waduk yang ada di Indonesia, termasuk dalam inovasi membangun waduk baru.

Kementerian PUPR sudah lama bekerja sama dengan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Semarang, Rabu..

"Selalu ada pertemuan tiap tahun," katanya usai membuka seminar tentang Jembatan dan Bendungan yang berlangsung di kampus Universitas Diponegoro Semarang yang diprakarsai oleh Kementerian PUPR.

Basuki menjelaskan Jepang selama ini sudah diakui keilmuannya dalam membangun bendungan sehingga klop karena Indonesia baru mau membangun 49 bendungan baru, termasuk mengelola 231 bendungan yang sudah ada.

"Istilahnya, ilmu bendungan mereka sudah `ngendap`, patenlah. Tahun ini, saya minta mereka bagaimana agar kami bisa memelihara dan memanfaatkan ini dengan lebih baik," katanya.

Untuk keperluan tersebut, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata mengadakan studi di tiga waduk di Sungai Citarum, yakni Jatiluhur, Saguling, dan Cirata, serta Waduk Jatiluhur.

Ia menyebutkan ada beberapa langkah pembenahan, antara lain meninggikan agar kapasitas lebih besar, membikin terowongan baru untuk "membilas sedimen, atau memperbaiki cara pengoperasian.

"Sebagai contoh di Citarum dengan memperbaiki cara mengoperasikan bendungan, buka-tutupnya. Ternyata, bisa menambah kapasitas air. Dengan operasi yang diperbaiki bisa 12 meter kubik/detik air yang bisa dimanfaatkan," katanya.

Dengan sistem pengoperasian menggunakan cara yang lama, diakuinya, banyak air yang ternyata terbuang percuma, namun dengan perbaikan cara pengoperasian bendungan bisa menambah pasokan air baku untuk Jakarta.

Sementara itu, Mr Yusuke Amano selaku Direktur Kerja Sama Internasional dan Teknik untuk Infrastruktur menyampaikan kegembiraan Pemerintah Jepang bisa berkesempatan menyampaikan hasil studi tentang bendungan.

Diakuinya, sebenarnya Jepang dan Indonesia memiliki banyak kesamaan, tidak hanya menyangkut klimatologi, tetapi juga bentuk negara yang juga kepulauan, dan Jepang memiliki beberapa pengalaman berharga yang bisa diterapkan di Indonesia.

Seperti misalnya, kata dia, di Indonesia terdapat infrastruktur yang cukup lama dibangun, seperti bendungan dan jembatan, tetapi Jepang memiliki bendungan dan jembatan yang lebih kuno atau lebih dulu dibangun.

Artinya, Yusuke menambahkan Jepang sudah memiliki pengalaman yang lebih untuk memperbaiki, mempertahankan, dan memelihara fasilitas-fasilitas tersebut yang bisa dimanfaatkan teknologinya di Indonesia.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar