Pengembang: Lahan Perumahan Di Semarang Masih Terbuka

id pengembang

Pengembang: Lahan Perumahan Di Semarang Masih Terbuka

Ilustrasi - Pengunjung mengamati maket rumah pada pameran REI Expo "Rumah untuk Semua", di Semarang, Jateng, Jumat (22/2). (FOTO ANTARA/R. Rekotomo/Koz/Spt/13)

Perumahan dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) didukung pemerintah dalam pemenuhan infrastrukturnya, sementara perumahan komersial harus usaha sendiri
Semarang, ANTARA JATENG - Pengembang perumahan mengakui keberadaan lahan untuk pengembangan hunian di Kota Semarang sebenarnya masih terbuka, khususnya yang berada di pinggiran.

"Kalau dari rencana tata ruang wilayah (RTRW) di Semarang, masih banyak daerah yang memungkinkan dikembangkan perumahan," kata Direktur PT Kini Jaya Indah Dibya K Hidayat di Semarang, Kamis.

Di sela pembukaan pameran perumahan Property Expo Semarang #8 di Mal Ciputra Semarang, ia mengatakan dari RTRW bisa terlihat titik-titik berwarna kuning yang memungkinkan dikembangkan perumahan.

Bahkan, kata dia, untuk pengembangan "landed houses" atau rumah tapak yang menerapkan sistem horizontal masih memungkinkan digarap di lahan-lahan yang memang masih terbuka.

Ia mencontohan daerah timur Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Demak, atau daerah Selatan, seperti Gunungpati dan sekitarnya yang hampir berbatasan dengan Kabupaten Semarang.

Persoalannya, kata dia, pengembang terkendala infrastruktur yang belum tergarap sepenuhnya sampai ke daerah tersebut sehingga menyulitkan akses masyarakat di perumahan itu nantinya.

"Infrastruktur ini bukan melulu jalan. Kebutuhan hidup masyarakat, seperti air bersih, listrik, dan sebagainya sangat penting. Kami belum yakin apakah infrastrukturnya siap," katanya.

Seperti pasokan air bersih yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang, kata dia, belum tentu bisa memenuhi pasokan dengan semakin banyaknya pengembangan perumahan.

"Apalagi, saya dengar pernah ada keluhan begitu ada sambungan baru maa aliran air di tempat lain yang semula besar menjadi berkurang. Ya, kendalanya memang seperti ini," katanya.

Demikian juga dengan pasokan listrik, kata dia, sebab PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus menyediakan jaringan yang besar untuk mencukupi kebutuhan listrik perumahan dalam jumlah besar.

Menurut dia, pengembang, terutama yang mengembangkan perumahan komersial harus berusaha membangun sendiri fasilitas dan infrastrukturnya, berbeda dengan perumahan yang bersubsidi.

"Perumahan dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) didukung pemerintah dalam pemenuhan infrastrukturnya, sementara perumahan komersial harus usaha sendiri," kata Dibya yang juga Ketua Panitia Property Expo Semarang.

Pewarta :
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar