Panen Tembakau Tahun Ini Jadi "Jamu"

id panen tembakau, temanggung

Panen Tembakau Tahun Ini Jadi

Seorang petani tembakau di Desa Sigedong, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, melakukan penyortiran daun tembakau sehabis dipanen. (Foto: ANTARAJATENG.COM/ Heru Suyitno)

Temanggung, ANTARA JATENG - Panen tembakau tahun ini diharapkan bisa menjadi "jamu" bagi para petani yang tahun lalu mengalami gagal panen, kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Agus Parmuji.

"Harapannya panen kali ini bisa menjadi `jamu` bagi kehidupan petani tembakau yang panen tahun lalu hasilnya kurang bagus dan pendapatan kurang sehingga petani harus menanggung utang," katanya di Temanggung, Senin.

Ia mengatakan para petani tembakau di wilayah Temanggung, Wonosobo, Magelang, dan Boyolali sudah memasuki awal panen dan tinggal menunggu uluran industri rokok untuk melakukan pembelian.

Seminggu yang lalu, pihaknya dipertemukan Kementerian Pertanian dengan beberapa perwakilan industri rokok untuk membahas "roadmap" pertembakauan.

Menurut dia, hal yang paling krusial adalah kebijakan pemerintah agar industri menolong petani mulai tahun ini hingga seterusnya.

"Bisa diibaratkan tahun ini adalah tahun petani. Sekarang kita sama-sama satu ikatan yang tidak terpisahkan antara industri, petani, dan negara untuk saling menolong, saling menopang agar semuanya bisa tersenyum," katanya.

Ia mengatakan dalam "roadmap" tersebut Kementerian Pertanian mengusulkan agar dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dimaksimalkan untuk mengembangkan kualitas dan kuantitas khusus di sentra-sentra tembakau yang sudah ada.

Ia berharap harga tembakau tahun ini harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

"Perlu diketahui sektor budi daya tembakau saat ini biaya naik hampir 40 persen dari tahun lalu, mulai dari tanam, panen, hingga ke pascapanen, karena ongkos tenaga kerja naik," katanya.

Menurut dia, hal itu harus menjadi perhitungan khusus bagi penentu "grade" di masing-masing industri rokok.

Ia menyebut kualitas tembakau saat ini sangat bagus. Melihat kenaikan biaya operasional ini, idealnya harga tembakau per "grade" paling tidak Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram.

"Harapan kami kami harga tembakau per `grade` berjalan Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Berarti untuk tembakau `grade` C paling tidak Rp75 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram," katanya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar