Lereng Gunung Slamet Dihijaukan Ribuan Bibit Pohon

id pangdam iv diponegoro, penanaman bibit pohon

Lereng Gunung Slamet Dihijaukan Ribuan Bibit Pohon

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto saat menanam bibit pohon buah di lereng selatan Gunung Slamet, Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Rabu (13/12/2017), dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Juang Kartika Ke-72. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Sumarwoto)

Banyumas, ANTARA JATENG - Sekitar 35.000 bibit pohon yang didominasi buah-buahan ditanam prajurit TNI bersama berbagai elemen masyarakat di lereng selatan Gunung Slamet, Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Aksi penanaman pohon dalam rangkaian peringatan Hari Juang Kartika Ke-72 Komando Daerah Militer IV/Diponegoro yang dipusatkan di Kabupaten Banyumas, Rabu, dipimpin langsung Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Wuryanto.

Saat ditemui wartawan, Pangdam mengatakan jika sebenarnya Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Banyumas, sudah sangat hijau dan subur.

"Tetapi memang permintaan masyarakat di sini kekurangan komoditas buah-buahan, sehingga yang kita tanam hampir 95 persen buah-buahan, komoditas yang bernilai tinggi. Mudah-mudahan dalam waktu lima-enam tahun yang akan datang sudah bisa dinikmati oleh masyarakat Desa Ketenger ini," kata mantan Kepala Pusat Penerangan TNI itu.

Kendati demikian, dia mengharapkan adanya kelanjutan dari aksi penanaman pohon tersebut.

Dalam hal ini, masyarakat diharapkan merawat bibit pohon buah-buahan tersebut agar bisa tumbuh subur hingga akhirnya berbuah.

"Setelah ditanam, jangan sampai dibiarkan sehingga tanaman yang sudah diupayakan dari pemerintah ini tidak sia-sia, tetapi tumbuh sebagaimana tujuan awal mereka menginginkan komoditas buah-buahan di daerah Ketenger ini," kata putra daerah Banyumas itu.



Sementara saat memimpin apel sebelum kegiatan penanaman bibit pohon, Pangdam mengatakan jika beberapa tahun lalu telah dicanangkan aksi penanaman 1 miliar bibit pohon di Indonesia.

Dengan demikian, kata dia, seharusnya di Indonesia tidak ada lagi lahan kritis atau perlu dihijaukan lagi sehingga saat sekarang masyarakat tinggal menikmati hasilnya berupa kayu maupun buah-buahan.

"Tetapi kita lihat hari ini, di daerah lain yang memang gundul, yang memang lahan kritis. Dari saya lahir, gunung-gunung itu banyak yang gundul tetapi sampai saat ini masih tetap kritis," katanya.

Ia mengatakan tanaman sebanyak 1 miliar yang saat itu dilaporkan tercapai, ternyata tinggal laporan.

"Itu artinya bahwa ternyata kita semuanya pandai merencanakan, pandai untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial seperti ini, tetapi lupa kewajiban lanjutan setelah penanaman-penanaman itu, sehingga dari 1 miliar pohon itu, saya tidak yakin 5 persen saja tumbuh," katanya.

Menurut dia, hal itu disebabkan setelah selesai ditanam, rata-rata ditinggalkan begitu saja.

Bahkan, berdasarkan istilah yang digunakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat ini telah beredar bibit pohon "es lilin", yakni bibit pohon yang tingginya seperti es lilin sekitar 30 centimeter.

"Dengan demikian, setelah ditanam, ditinggal, yang hidup ya hidup, yang mati ya mati. Ya hampir pasti mati, sehingga tidak ada bekas," katanya.

Terkait dengan hal itu, dia mengimbau masyarakat Desa Ketenger agar tidak sekadar menerima bibit pohon yang ditanam tetapi juga merawatnya agar dapat dinikmati pada masa yang akan datang.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar