Lahan Tidur di Kudus Mulai Ditanami Padi

id lahan tidur

Lahan Tidur di Kudus Mulai Ditanami Padi

Traktor diperbantukan untuk petani di Desa Kirig, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, untuk membantu petani mengolah lahan tidur menjadi lahan persawahan untuk ditanami tanaman padi. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus, ANTARA JATENG - Sekitar 20 hektare dari ribuan hektare lahan tidur yang ada di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kini mulai ditanami tanaman padi oleh petani setelah mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat.

"Kami memang mendorong para pemilik lahan tidur yang sebelumnya bisa ditanami tanaman padi untuk segera mengolahnya kembali agar bisa ditanami tanaman padi," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus melalui Kasie Tanaman Catur Sulistiyanto melalui Kabid Tanaman Pangan dan Perkebunan Arin Nikmah di Kudus, Senin.

Untuk saat ini, kata dia, tercatat baru 20 hektare lahan tidur di Desa Desa Kirig, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, yang berhasil ditanami tanaman padi.

Sementara luas lahan yang berpotensi untuk ditanami tanaman padi pada tahun 2017, kata dia, bisa mencapai 100 hektare dari total lahan tidur yang bisa dioptimalkan mencapai 210 hektare.

Pada tahun 2018, lanjut dia, lahan tidur yang diharapkan bisa dioptimalkan untuk bisa ditanami seluas 400 hektare yang tersebar di Desa Temulus dan Bulung Kulon, Kecamatan Mejobo.

"Mudah-mudahan, secara bertahap semua lahan tidur yang ada bisa ditanami kembali karena hal tersebut memang membutuhkan dukungan dari petani sebagai pemilik lahan," ujarnya.

Adapun lahan tidur di Kabupaten Kudus yang berpotensi bisa dioptimalisasi menjadi lahan persawahan, mencapai 1.677 hektare.

Ribuan hektare lahan tersebut, tersebar di 11 desa, meliputi Desa Bulung Kulon, Bulung Cangkring, Sedo Mulyo, Sadang, dan Gongoharum (Kecamatan Jekulo), serta Desa Temulus, Kirig, Gulang, Payaman, Jojo dan Kesambi (Kecamatan Mejobo).

Adapun rinciannya, meliputi Desa Bulung Kulon seluas 475 hektare, Bulung Cangkring 180 hektare, Sedo Mulyo seluas 95 hektare, Sadang seluas 36 hektare, dan Gondoharum seluas 158 hektare.

Sementara di Desa Temulus seluas 249 hektare, Kirig seluas 210 hektare, Gulang seluas 175 hektare, Payaman seluas 17 hektare, Jojo seluas 35 hektare, dan Kesambi seluas 37 hektare.

Dalam rangka memudahkan petani mengolah lahan tidur menjadi areal sawah yang siap ditanami tanaman padi, katanya, disediakan peralatan untuk mengolah lahan.

Di antaranya, traktor dan mesin penyedot air yang jumlahnya mencapai 10 unit.

"Petani bisa menggunakan alat tersebut tanpa membayar biaya sewa, karena gratis," ujarnya.

Menurut dia, pada musim tanam ketiga seperti sekarang merupakan waktu yang tepat untuk ditanami tanaman padi, karena memasuki musim tanam pertama dan kedua lahan tersebut biasanya digenangi banjir.

Pasalnya, kata Arin, lahan tidur yang selama ini ada di Kabupaten Kudus merupakan lahan produktif, namun karena sering dilanda banjir akhirnya tidak diurus oleh pemiliknya.

Tersedianya traktor untuk mengolah lahan pertanian, katanya, tentu meringankan beban petani, karena jika harus menyewa biayanya per hari bisa mencapai Rp2 juta, sedangkan biaya yang dikeluarkan dengan adanya pinjaman traktor hanya mengeluarkan biaya separuhnya.

Dengan adanya tambahan lahan sawah seluas 1.677 hektare, maka lahan areal sawah di Kabupaten Kudus berpeluang bertambah dari luas sebelumnya hanya 20.590 hektare.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar