Kementerian PUPR Perluas Peran BMKG Dukung Pengoperasian Infrastruktur

id Kementerian PUPR, BMKG, Pengoperasian Infrastruktur

Kementerian PUPR Perluas Peran BMKG Dukung Pengoperasian Infrastruktur

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kiri) menerima cinderamata dari Director of International Cooperation and Engineering for Infrastructure of MLIT Pemerintah Jepang Yusuke Amano, didampingi Wakil Rektor III Undip Budi Setiyono (kanan), di sela seminar tentang Jembatan dan Bendungan di Semarang, Rabu (13/12/2017) (Foto: ANTARAJATENG.COM/Zuhdiar Laeis)

Selama ini, biasanya BMKG hanya memprediksi untuk kebutuhan (menghadapi, red.) bencana, apakah gempa, banjir, siklon, puting beliung, dan sebagainya
Semarang, ANTARA JATENG - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melebarkan peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mendukung pengoperasian fasilitas dan infrastruktur yang ada.

"Selama ini, biasanya BMKG hanya memprediksi untuk kebutuhan (menghadapi, red.) bencana, apakah gempa, banjir, siklon, puting beliung, dan sebagainya," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Semarang, Rabu.

Hal tersebut diungkapkannya usai membuka seminar tentang Jembatan dan Bendungan (DAM Upgrade and Bridge Seminar) di kampus Universitas Diponegoro Semarang yang diprakarsai oleh Kementerian PUPR.

Padahal, kata Basuki, BMKG memiliki alat yang tersebar jaringannya di seluruh Indonesia yang bisa digunakan untuk membantu dan mendukung pengoperasian infrastruktur yang ada, di antaranya bendungan.

"Jadi, kami ingin bekerja sama lebih erat. Kami ingin melebarkan peran BMKG agar tidak hanya terkait bencana alam, tetapi juga membantu mengelola sumber daya air yang dimiliki," kata sosok kelahiran Surakarta, 5 November 1954 itu.

Sementara itu, Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati mengakui lembaga yang dipimpinnya selama ini masih dianggap perannya sebatas memberikan peringatan dini perkiraan terjadinya bencana alam di Indonesia.

Sebenarnya, kata dia, BMKG telah memanfaatkan data-datanya yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air, baik melalui satelit, radar, termasuk stasiun-stasiunnya untuk kepentingan penerbangan dan pelayanan lainnya.

"Tentunya, dengan akurasi 100 persen untuk prakiraan cuaca. Terkait infrastruktur, akurasi yang tinggi bisa juga kami siapkan untuk mendukung inovasi pembangunan infrastruktur," kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu.

Ia mencontohkan data yang dibutuhkan dari segi cuaca, seperti cuaca ekstrim, perkiraan musim, baik hujan, kemarau, prediksi banjir, kekeringan, hingga prediksi guncangan tanah yang diakibatkan gempa bumi.

"Semua (data, red.) dibutuhkan untuk menjaga `safety` bendungan tadi. Jadi, inovasi tidak hanya dari segi volume bendungan dan `maintenance`, melainkan juga dari segi `safety`-nya agar bisa beroperasi dengan lancar," katanya.

Oleh karena itu, mantan Rektor UGM Yogyakarta itu memastikan kesiapan BMKG untuk berperan memanfaatkan data yang dimilikinya secara masif dan "online" yang bisa diprediksi beberapa bulan ke depan untuk inovasi pembangunan infrastruktur. 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar