Kabupaten Kudus Bebas Kasus Difteri

id difetri,

Kabupaten Kudus Bebas Kasus Difteri

Ilustrasi - Bulan Imunisasi Anak Sekolah Petugas Puskesmas Sindangbarang Kota Bogor menyuntikkan vaksin Td (Tetanus difteri) kepada siswa SD di ruang UKS SD Insan Kamil, jalan Dramaga, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (28/11/2016). Pemberian vaksin Tetanus difteri dalam Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang dilakukan Kementerian Kesehatan tersebut diikuti 340 siswa kelas 1 hingga 3 SD yang bertuju

Kudus, ANTARA JATENG - Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memastikan bahwa hingga kini belum ditemukan kasus difteri, meskipun penyakit yang menyerang anak-anak dan orang dewasa tersebut telah mewabah di berbagai daerah, kata Kepala Dinkes Kudus Joko Dwi Putranto.

"Sebelumnya, di Kabupaten Kudus juga telah dilaksanakan program imunisasi untuk mencegah serangan penyakit, terutama terhadap anak-anak," ujarnya di Kudus, Kamis.

Bagi anak yang sudah mendapatkan imunisasi lengkap, termasuk imunisasi DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), kata dia, tentu bisa terhindar dari serangan penyakit tersebut.

Dalam rangka mencegah segala macam penyakit, termasuk penyakit difteri, Dinkes Kudus juga mengoptimalkan peran petugas kesehatan di masing-masing Puskesmas.

Menurut dia, masyarakat di Kabupaten Kudus tidak perlu khawatir dengan penyakit tersebut yang diinformasikan telah mewabah di sejumlah daerah.

Hal terpenting, kata dia, masyarakat harus menerapkan pola hidup sehat agar daya tahan tubuhnya tetap terjaga.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kudus Hikari Widodo menambahkan, temuan kasus difteri selama lima tahun terakhir memang nihil.

"Masyarakat sebaiknya tidak perlu panik, cobalah untuk menerapkan pola hidup sehat agar tidak mudah terserang penyakit difteri merupakan penyakit yang disebabkan karena bakteri corynebacterium diphtheriae," ujarnya.

Selain itu, kata dia, masyarakat juga perlu menjaga asupan makanan yang bergizi seimbang dan istirahat cukup agar tidak mudah terserang penyakit tersebut.

Adapun gejalanya, kata dia, diawali dengan demam dan batuk.

Jika ada gejala serupa, dia menyarankan, untuk segera periksa ke dokter agar mendapatkan penanganan.

Apabila tidak segera diobati, kata dia, serangan penyakit tersebut memang bisa mengakibatkan kelumpuhan serta mengakibatkan gangguan pada organ tubuh lainnya.

Ia mengingatkan, bahwa difteri juga tergolong penyakit menular, di antaranya lewat batuk atau bersin dari orang yang terjangkit difteri.

"Jika sedang batuk atau bersin, sebaiknya menjaga jarak dengan orang sehat untuk menghindarkan tertularnya kuman penyakit atau menuputinya dengan kertas tisu," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar