Hari Guru dan Tantangan Pendidikan

id Guru

Hari Guru dan Tantangan Pendidikan

Ilustrasi - Guru melakukan aktivitas belajar mengajar saat hari pertama masuk sekolah di SDN Srondol Wetan 01 Semarang, Jateng. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

Purwokerto, ANTARA JATENG - Setiap tanggal 25 November, masyarakat Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Momentum ini selain memuliakan, juga memberi penghormatan terhadap jasa-jasa guru.

Hari Guru Nasional ini sekaligus sebagai penginga, bahwa masih banyak tantangan pendidikan pada masa yang akan datang.

Pengamat pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Drs. Sri Harmianto, M.Pd. mengatakan bahwa Hari Guru Nasional bisa menjadi titik tolak untuk instropeksi dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai perubahan. Salah satu tantangan yang perlu dihadapi adalah upaya memperkuat literasi di sekolah.

Guna mencegah melemahnya literasi di sekolah, guru perlu membiasakan kegiatan membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar-mengajar, kemudian mendiskusikan dan menjabarkan bersama-sama mengenai apa yang telah siswa baca. Hal ini sangat penting untuk memperkuat budaya membaca, terutama membaca buku.

Tantangan lainnya adalah upaya memperkuat literasi perpustakaan.

Menurut dia, cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberi tugas kepada siswa untuk mencari bahan di perpustakaan, dan mewajibkan mereka menuliskan daftar pustaka.

Hal tersebut sangat positif bagi peserta didik, yakni bisa membangun kebiasaan untuk mengecek ulang sebelum mengeluarkan pendapat. Selain itu, mengetahui pentingnya informasi berbasis data serta bukti yang akurat dan logis.

Tantangan berikutnya adalah upaya memperkuat literasi media, yaitu dengan cara memberi tugas kepada siswa untuk membaca media cetak atau daring, lalu mendiskusikannya.

Menurut dia, kebiasaan membaca koran, majalah, terutama jurnal ilmiah, makin jarang dilakukan. Padahal, siswa harus membiasakan diri mencari data dari berbagai sumber sehingga pemahaman keilmuan makin lengkap dan aktual.

Tantangan yang tidak kalah pentingnya adalah upaya memperkuat literasi teknologi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara siswa ditugaskan baca buku elektronik, kemudian membuat komentar dan analisis, lalu disajikan melalui presentasi di kelas.

Ia menilai cara tersebut akan berdampak positif untuk mendorong semangat siswa berkompetisi.

Sementara itu, tantangan yang tidak kalah penting lainnya adalah upaya memperkuat literasi visual. Cara yang dapat dilakukan adalah memberikan tugas kepada siswa untuk menyimak film atau animasi atau iklan yang berdurasi pendek, lalu membuat kesimpulan melalui website sekolah atau aplikasi YouTube.

Guru, kata dia, harus memonitor agar siswa selektif dan tidak mengunggah materi yang tidak layak.

Sementara itu, dia mengatakan bahwa Hari Guru dapat menjadi momentum untuk mengingat bahwa guru berperan sebagai pendidik sekaligus pendamping siswa hingga kapan pun. Artinya, guru ikut bertanggung jawab memberikan keteladanan kepada peserta didik.

Menurut dia, membentuk siswa agar memiliki kepribadian baik membutuhkan sinergitas antara orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan pemerintah.

Dengan demikian, proses memberi contoh keteladanan harus dilakukan kepada seluruh siswa kapan pun dan di mana pun.

Mengingat jasa-jasa guru, peran strategis para guru dan banyaknya tantangan yang harus dihadapi para guru untuk menciptakan generasi emas, dia mengingatkan bahwa Pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan guru.

Perhatian pemerintah, menurut dia, harus ditujukan kepada seluruh guru, termasuk mereka yang berstatus guru honorer hingga wiyata bakti.

Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan para guru, kata dia, perlu tetap dibarengi dengan upaya peningkatan kompetensi dan kualifikasi sesuai bidangnya.


Tantangan Perubahan

Deputi Bidang Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Sartono mengatakan bahwa guru memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun peradaban bangsa.

Guru juga memiliki peran yang amat penting untuk mengawal peserta didik dalam menghadapi perubahan paradigma pendidikan.

Pada saat ini, kata dia, guru harus mampu menjadi fasilitator dan pada akhirnya menjadi seorang yang ahli dalam berbagi informasi.

Menurut dia, metode pembelajaran juga terus mengalami perubahan, kelas menjadi "e-learning" dan bahkan mengarah ke "mobile learning".

Untuk itu, guru dituntut membangun rasa keingintahuan dan pemikiran kritis anak didik dengan tetap memberikan ruang bagi tumbuh kembang kreativitasnya.

Ia menjelaskan tujuan pembangunan nasional telah digariskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) 1945.

Hal tersebut, kata dia, menjadi pedoman bagi seluruh warga negara Indonesia sekaligus tanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa.

Pendidikan, kata dia, diharapkan mampu membentuk kualitas pribadi warga negara yang cerdas dan berkarakter. Hal itu dapat diwujudkan melalui peran seorang guru.

Menurut dia, bangsa yang maju adalah bangsa yang memperhatikan peran guru.

"Contohnya adalah Jepang. Ketika ada serangan bom atom, Kaisar Jepang bertanya `berapa guru yang hidup? Kaisar Jepang bertanya seperti itu karena dia percaya bahwa melalui guru, Jepang akan cepat bangkit kembali," katanya.

Sementara itu, dia melihat permasalahan pendidikan saat ini terdapat pada kurangnya rotasi guru atau distribusi guru.

Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mendorong distribusi guru ke tempat lain.

Sementara itu, berdasar Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) Kemenristekdikti pada tahun 2015, ada 415 lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), yaitu 37 LPTK negeri dan 378 LPTK swasta, yang meluluskan program pendidikan guru sekolah dasar sebanyak 91.247 lulusan.

Lulusan tersebut akan terakumulasi setiap tahunnya. Diproyeksikan pada tahun 2025 mencapai 444.551 lulusan.

Jika bupati dan wali kota tidak mau mendistribusikan guru secara merata, makan kebutuhan pendidikan untuk membangun bangsa tidak terpenuhi, katanya.

Sementara itu, Agus Sartono juga mengajak seluruh pihak, khususnya orang tua, untuk menjadi "guru" bagi keluarga dan anak-anak mereka.

Orang tua, menurut dia, tidak boleh menyerahkan tanggung jawab pendidikan secara penuh kepada guru pendidikan formal.

"Justru orang tua menjadi `guru sejati` di setiap keluarga. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak. Jangan sampai atas nama tuntutan kebutuhan ekonomi, orang tua lalai akan kewajiban utamanya," katanya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar