Dua Desa Kesulitan Air Bersih Dibantu Sumur Bor

id sumur bor

Dua Desa Kesulitan Air Bersih Dibantu Sumur Bor

Anggota Komisi VII DPR RI Daryatmo Mardiyanto bersama Kepala Subbidang Pemberdayaan Air Tanah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Budi Joko Purnomo dan Camat Gebog, kepala desa, dan masyarakat bersama-sama mengoperasikan sumur bor bantuan Kementerian ESDM di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jumat (8/12). (FOTO: ANTARAJATENG.COM/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus, ANTARA JATENG - Dua desa di Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang selama ini termasuk daerah rawan air bersih mendapatkan bantuan sumur bor dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Peresmian pengoperasian kedua sumur bor dalam di dua desa tersebut, dilakukan Jumat (8/12) dengan dihadiri Anggota Komisi VII DPR RI Daryatmo Mardiyanto serta Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Air Tanah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Budi Joko Purnomo.

Menurut Anggota Komisi VII DPR RI Daryatmo Mardiyanto ditemui di sela-sela peresmian pengoperasian sumur bor dalam di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jumat, hari ini (8/12) memang ada dua lokasi bantuan sumur bor yang pengoperasiannya diresmikan.

Desa yang pertama diresmikan, yakni di Dukuh Seminding, Desa Jerukwangi, Kecamatana Bangsri, Kabupaten Jepara dan kedua di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus.

Ia berharap, program tersebut bisa membantu warga yang berada di kawasan kesulitan air bersih menjadi mudah mendapatkan air bersih.

"Bantuan tersebut harus dirawat dengan benar, agar pemanfaatannya bisa maksimal," ujarnya.

Lokasi yang dipilih, kata dia, memang diawali dengan studi untuk memastikan sumber airnya bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang dan lancar atau tidak.

Sumur bor dalam tersebut, kata dia, termasuk semi artesis, sehingga sumber airnya memang dicari yang bisa dimanfaatkan selamanya.

Lokasi pembangunan sumur bor tersebut, kata dia, diprioritaskan di tempat yang dekat dengan permukiman serta tempatnya juga pada dataran yang agak tinggi.

Hal itu, lanjut dia, bertujuan agar airnya bisa dialirkan ke rumah-rumah warga dengan memanfaatkan gravitasi, tanpa harus menggunakan peralatan tambahan untuk menekan biaya.

Adapun biaya pembuatan sumur bor dalam, kata dia, setiap unitnya dialokasikan anggaran antara Rp500 juta hingga Rp600 juta.

Terkait biaya operasionalnya, kata dia, dengan solar antara 3-4 liter, mampu menghasilkan 5.000 liter air per jamnya.

Kepala Desa Gondosari Harianto  mengatakan bahwa warganya di Dukuh Ngemplak Kulon sangat terbantu dengan adanya sumur bor dalam.

Sebelumnya, kata dia, pada musim-musim tertentu, terpaksa intensitas mandinya dikurangi, karena air bersih yang dimiliki warga mengandalkan sumber air dari pegunungan yang dialirkan melalui pipa paralon.

Untuk mendapatkan air bersih, katanya, warga harus mengeluarkan biaya untuk pembelian pipa paralon sepanjang 6 kilometer.

"Hanya saja, jaringan air bersih tersebut rawan gangguan," ujarnya.

Yanto, warga Desa Gondosari mengakui, pasokan air dari pegunungan selama sepekan sempat terhenti karena adanya gangguan.

Akibatnya, kata dia, warga harus menghemat penggunaan air yang masih tersedia di rumah dan sebagian warga ada yang harus membeli.

Ia bersyukur ada bantuan sumur bor dalam, sehingga bisa menjadi sumber air bersih alternatif, mengingat sumber air dari pegunungan memang kurang lancar.

Murni, salah seorang warga Desa Jerukwangi mengaku, senang adanya bantuan sumur bor di sekitar tempat tinggalnya, sehingga memudahkan dirinya maupun warga sekitar dalam mendapatkan air bersih.

Sebetulnya, kata dia, warga juga memiliki sumur, namun saat musim kemarau tidak ada airnya. Bahkan,saat kemarau panjang sering tidak mandi karena air yang ada diprioritaskan untuk memasak atau kebutuhan penting lainnya.
Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar