Delegasi Delapan Negara Belajar Kota Tangguh di Semarang

id kota tangguh,asean,semarang

Delegasi Delapan Negara Belajar Kota Tangguh di Semarang

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (dua dari kiri) saat memaparkan mengenai Kota Semarang yang terpilih sebagai kota tangguh dari 100 Resilient Cities oleh Rockefeller Foundation, di hadapan delegasi dari delapan negara ASEAN, di Semarang, Jumat (13/

Semarang, ANTARA JATENG - Delegasi dari delapan negara ASEAN belajar di Kota Semarang yang terpilih sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang masuk dalam 100 Resilient Cities (100 Kota Tangguh) bersama 99 kota lain di dunia.

Kedatangan delegasi delapan negara ASEAN yang tergabung dalam ACE (AHA Centre Executive) Programe itu diterima Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Gedung Moch Ihsan di Kompleks Balai Kota Semarang, Jumat.

Delapan negara ASEAN yang mengirimkan delegasinya untuk mengikuti program itu, yakni Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Myanmar.

Menurut Hendi, sapaan akrab orang nomor satu di Kota Semarang itu, merupakan suatu kehormatan bisa berbagi ilmu dengan negara-negara lain, khususnya bagaimana menjadi kota tanggung di bidang fisik, sosial, maupun ekonomi.

"Pada 2016, Kota Semarang pada 2016 terpilih sebagai salah satu dari 100 kota tangguh oleh Rockefeller Foudation. Kunjungan ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk sama-sama belajar dan berbagi ilmu," katanya.

Semarang, kata dia, dinobatkan sebagai kota tangguh, tetapi memiliki persoalan dengan kemiskinan, pertumbuhan penduduk yang tinggi, rawan bencana tanah longsor, banjir, dan jika musim kemarau terjadi kekeringan.

"Dengan bergabungnya Semarang dalam 100 Resilient City, menjadikan kota ini lebih mampu beradaptasi dan tumbuh berkembang sesuai dengan kondisi-kondisi yang ada," kata politikus PDI Perjuangan tersebut.

Dari masyarakatnya, kata dia, menjadi lebih terbiasa untuk menyesuaikan diri agar tetap bertahan hidup di tengah persoalan-persoalan yang dihadapi Kota Semarang.

Tentunya, ia mengatakan persoalan yang dihadapi setiap kota berbeda, termasuk Semarang, demikian pula di negara lain, tetapi bagaimana kemudian mereka mampu mengatasi persoalan di negaranya masing-masing.

Sebenarnya, kata Hendi, untuk membawa Semarang menjadi lebih tangguh adalah dengan enam pilar pembangunan yang didukung oleh 4P, yakni penduduk, pewarta, pemerintah, dan pengusaha.

"Enam pilar tersebut adalah pembangunan air dan energi berkelanjutan, menciptakan peluang ekonomi baru, kesiapsiagaan akan risiko bencana dan wabah penyakit, transportasi umum yang nyaman, layak, dan murah," katanya.

Dua pilar pembangunan lainnya, tambah dia, komitmen untuk selalu terbuka kepada masyarakat, baik dari sisi akuntabilitas dan informasi, serta terus menciptakan sumber daya yang selalu kompetitif dan mampu bersaing.

"Harapannya, dengan saling tukar menukar pengalaman dan berbagi ilmu ini, persoalan-persoalan yang ada di kota besar, khususnya Semarang akan cepat teratasi. Semua menjadi lebih baik dan hebat saat bergerak bersama," pungkas Hendi.

Rencananya, delegasi delapan negara ASEAN itu akan menimba ilmu tentang kota tangguh selama lima hari dengan pembekalan materi, seperti kesiapsiagaan tanggap darurat bencana hingga pembibitan "mangrove" di Kelurahan Mangunharjo, Tugu, Semarang.
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar