Bulog Surakarta Diminta Selesaikan CSHP Akhir Desember 2017

Pewarta : id bulog surakarta serap gabah

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian Momon Rusmono (tengah) didampingi Kepala Divre Bulog Jateng Djoni Nur Ashari (kiri) memberikan arahan dan motivasi kepada mitra kerja dan Satgas pangan di Gudang Bulog Kriki

Sragen, ANTARA JATENG - Perum Bulog Divre Surakarta diminta kantor pusat untuk mampu menyelesaikan sisa kekurangan target cadangan stabilitas harga pangan (CSHP) 2017 dengan berbagai upaya bersama mitra kerjanya menyerab beras hingga waktu akhir Desember mendatang.

"Bulog Surakarta target pengadaan tahun ini, sebanyak 114 ribu ton dan realisasinya hingga Oktober ini, sekitar 55 persen," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian Momon Rusmono, saat kunjungannya di Gudang Bulog Krikilan Masaran Sragen, Jumat.

Menurut Momon Rusmono dari target tersebut kemudian dibantu dengan CSHP sebanyak 17.000 ton setara beras dengan harga pembelian Rp8.030 per kilogram, tetapi realisasinya baru mampu menyerap beras 5.000 ton.

Padahal Bulog wilayah Surakarta selama ini, hampir sekitar 70 persen sumber pengadaan pangan dari wilayah Kabupaten Sragen, sehingga jika daerah ini tidak bisa menyerap gabah dengan baik maka akan mengganggu serapan Sub Divre Surakarta.

"Kami mencatat dari CSHP 17.000 ton beras hingga sekarang realisasi diserap baru sekitar 5.000 ton, dan sisanya 12.000 ton. Hal ini, berlaku hingga 31 Desember 2017 dengan harga Rp8.030 per kg. Saya berharap Bulog mampu menyerap sekitar 70 persen dari sisa target 12.000 ton hingga akhir Desember," katanya.

Kendati demikian, pihaknya meminta baik Bulog, mitra kerja, petugas koordinasi Percepatan Serap Gabah (Sergap) bekerja sama untuk bisa memenuhi target CSHP tersebut dapat tercapai.

Selain itu, pihaknya juga berharap arahan strategi lain yang dilakukan oleh Bulog mempunyai Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPGP) yang harus digerakkan jika membeli gabah kering panen (GKP) atau gabah kering giling (GKG) cukup berat. Harga GKP sekarang mencapai Rp4.600 hingga Rp5.100/kg, sedangkan GKG mencapai Rp5.600/kg.

Padahal Bulog, kata dia, sesuai ketentuan bisa menerima dengan harga GKP Rp3.700/kg dan GKG Rp5.115/kg, sehingga pihaknya mengharapkan Bulog jangan membeli gabah, tetapi membeli beras. Dari gabah diolah menjadi beras dan mengeloh beras perlu biaya, belinya harus di bawah harga yang ditetapkan sehingga dapat masuk gudang Bulog sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Menurut dia, pihaknya terus melakukan pemantauan di wilayah Jateng terutama kegiatan penyerapan di Semarang, Kedu dan Surakarta, sedangkan Banyumas terbaik atau selalu berjalan melebih target.

"Saya berharap Bulog tetap berupaya meski pada musim paceklik panen padi tidak terlalu banyak, tetapi paling tidak bisa memenuhi target CSHP hingga Desember mendatang," katanya.

Kepala Diver Jateng Djoni Nur Ashari mengatakan Bulog sebagai operator tetap terus berupaya melakukan penyerapan beras hingga akhir Desember 2017 yang ditargetkan sebanyak 602. 275 ton, tetapi realiasinya hingga sekarang 349.701 ton atau sejutar 58 ton.

"Kami tahu semua memang tergantung suplay tidak bisa memaksakan orang menjual berasnya ke Bulog," kata Djoni.

Namun, kata dia, yang terpenting kerja sama upaya untuk menyerap gabah atau beras hasil panen petani tetap terus dilakukan. Sekarang kondisi musim sedang paceklik musim tanam baru dimulai, dan diperkirakan panen raya mulai awal Pebruari 2018 mendatang.
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar