Bersama-sama Mengurangi Dampak Risiko Bencana

id bupati banjarnegara, proses evakuasi

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono (batik), saat memantau proses evakuasi pohon tumbang di alun-alun banjarnegara. (ANTARAJATENG.COM/humas banjarnegara)

Banjarnegara, ANTARA JATENG - Langit terlihat gelap pada saat hujan deras disertai angin kencang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (8/11) siang. Akibatnya, sejumlah pohon bertumbangan, baliho rubuh, dan ada rumah yang tertimpa pohon.

Bahkan, pohon beringin besar yang ada di tengah tengah Alun-Alun Kota Banjarnegara ikut tumbang dan menelan korban jiwa. Seorang meninggal dunia dan enam korban lainnya menderita luka. Mereka dilarikan ke rumah sakit.

Menurut laporan yang dihimpun Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, diketahui bahwa korban sedang berteduh di bawah pohon beringin saat terjadinya hujan. Korban tidak sempat menyelamatkan diri ketika pohon tersebut tumbang.

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara), Setyoajie Prayoedhie menginformasikan adanya pembentukan awan konvektif (awan yang bergerak secara vertikal dalam atmosfer) pada saat terjadinya hujan lebat dan angin kencang di wilayah tersebut.

Kondisi atmosfer pada saat terjadinya hujan lebat dan angin kencang, kata dia, ditemukan adanya pengaruh regional berupa pola angin yang mengindikasikan adanya pembentukan awan konvektif.

Menurut analisis BMKG, kondisi itu merupakan akibat dari adanya pengumpulan massa udara dan daerah belokan angin yang mengakibatkan perlambatan massa udara. Hal ini menyebabkan peningkatan pengangkatan massa udara yang berpotensi menumbuhkan awan konvektif Cumulonimbus yang dapat menyebabkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Selain itu, lanjut dia, didukung dengan kondisi lokal, baik dari labilitas udara maupun citra satelit yang menunjukkan kondisi udara labil dan tergambar pada citra satelit.

Berdasarkan data citra satelit cuaca, pada saat itu, indikasi pertumbuhan awan mulai pukul 12.30 WIB.

Untuk itu, BMKG mengingatkan kepada masyarakat setempat agar mewaspadai hujan berdurasi lama dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang dan petir. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu bencana longsor dan pohon tumbang.

Meskipun perlu meningkatkan kewaspadaan, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik serta terus mengikuti arahan dari instansi terkait.

Masyarakat juga diminta untuk tidak terpancing kabar bohong (hoaks) dan isu yang tidak bertanggung jawab mengenai bencana alam di wilayah tersebut.


Cek Pohon

Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara Arief Rahman, usai kejadian tersebut, mengatakan bahwa pihaknya mengusulkan ke dinas teknis terkait untuk mengecek kondisi pohon yang sudah lapuk serta melakukan peremajaan pohon pelindung yang membahayakan.

Pemangkasan ranting pohon yang membahayakan juga harus segera dilakukan, katanya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan upaya mitigasi atau pengurangan risiko bencana di wilayah Banjarnegara. Terlebih, pada saat ini telah ada Surat Keputusan (SK) Bupati Banjarnegara Nomor 360/862/2017 tentang Penetapan Siaga Darurat Tanah Longsor, Angin Kencang, dan Banjir di Wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Surat Keputusan tersebut berlaku mulai 18 Oktober 2017 hingga 15 Januari 2018. Surat ini dikeluarkan dalam rangka mempersiapkan dan mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor, angin kencang, dan banjir menyusul tingginya intensitas hujan di wilayah tersebut.

Menurut dia, dengan adanya SK tersebut maka BPBD lebih punya kekuatan untuk mengambil langkah-langkah.

Namun, sebelum ada SK tersebut, pihaknya juga telah melakukan sejumlah upaya terkait dengan penanggulangan bencana alam, seperti longsor.

Sementara itu, Kepala Pusat Mitigasi Bencana LPPM Universitas Jenderal Soedirman Dr. Endang Hilmi mengatakan bahwa upaya mitigasi atau pengurangan risiko bencana angin kencang sangat penting guna meninimalisasi jatuhnya korban. Misalnya, perlu dibuat informasi di lokasi rawan bencana angin langkisau (puting beliung) agar masyarakat tidak berteduh di bawah pohon ketika terjadi angin kencang dan hujan petir.

Terlebih, pohon merupakan pengantar energi yang baik bagi petir dan angin. Oleh karena itu, sebaiknya masyarakat tidak berteduh di bawah pohon ketika hujan lebat.

Upaya mitigasi yang juga perlu dilakukan adalah pemeliharaan secara intensif terhadap tanaman yang sudah tua.

Selain itu, kegiatan pemangkasan cabang atau yang dikenal dengan prunning secara berkala, menurut dia, juga sangat perlu.

Ia menekankan bahwa pengurangan risiko bencana angin langkisau harus berjalan dengan baik.

"Perlu pemberian pemahaman kepada masyarakat tetang mitigasi bencana tersebut. Pemberian kurikulum pengurangan risiko bencana juga harus diberikan ke semua tingkatan anak-anak sekolah," katanya.

Menurut dia, upaya mitigasi bencana bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan perlu peran serta masyarakat.

Perlu upaya bersama, mengurangi dampak risiko bencana.

Sementara itu, pernyataan senada juga disampaikan oleh Kapolres Banjarnegara AKBP Nona Pricillia Ohei. Dia mengingatkan warga setempat untuk mewaspadai pohon tumbang menyusul terjadinya hujan lebat dan angin kencang di wilayah tersebut.

Terkait dengan masih tingginya intensitas hujan di wilayah tersebut, Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai jalan licin dan tanah longsor serta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika merasakan tanda-tanda bahaya longsor.

Guna membantu masyarakat saat terjadi bencana alam di wilayah tersebut, pihaknya juga telah menyiapkan tim siaga bencana.

Tim tersebut, kata dia, merupakan gabungan anggota dari satuan intel, lalu lintas, sabhara, reskrim, dan lainnya.

Apabila terjadi bencana alam dan hal lainnya di wilayah Banjarnegara, tim siaga bencana selalu siap bergerak dan bergabung dengan unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) TNI dan lain sebagainya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar